Keterlibatan generasi muda dinilai penting dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi polusi udara di Indonesia.

Mereka tidak hanya sebagai kelompok terdampak, tetapi juga bisa berperan dalam riset, advokasi, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis data.

in1

>>> Sekolah Rakyat Jangkau Suku Talang Mamak di Pedalaman Jambi

Hal ini mengemuka dalam forum diskusi "Akademi Udara Bersih: From Wisdom to Impactful Action" yang digelar Bicara Udara bersama Guidelight di Universitas Indonesia, Jumat (19/6/2026).

Forum tersebut menyoroti peran mahasiswa dalam merespons persoalan kualitas udara yang masih menjadi tantangan di berbagai kota di Indonesia.

Data studi Better Air, Better Indonesia (2023) mencatat rata-rata konsentrasi PM2.5 di Indonesia mencapai 39,6 mikrogram per meter kubik.

Angka itu melampaui batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan kognitif dan kesehatan mental, terutama pada kelompok usia muda.

Kampus Dinilai Punya Peran Strategis

Manajer Operasional Data dan Pengembangan Layanan UI GreenMetric, Rahmi, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang mahasiswa terhadap isu lingkungan.

"Kampus adalah tempat yang tepat untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus kemampuan berpikir kritis.

>>> Komunitas Klabu Manfaatkan Taman Kota Jagakarsa Jadi Ruang Literasi

Ketika mahasiswa memahami dampak polusi udara berdasarkan data dan fakta, mereka perlu didorong untuk mencari solusi berupa ide dan usulan kebijakan," kata Rahmi.

City Advisor Breathe Jakarta-C40, Fadhil Firdaus, menilai generasi muda memiliki peluang besar untuk terlibat dalam proses perubahan, termasuk melalui penelitian dan advokasi publik.

"Anak muda punya kesempatan besar untuk berkontribusi, baik lewat riset, inovasi, maupun keterlibatan dalam proses kebijakan. Semakin banyak yang terlibat, semakin besar peluang menciptakan perubahan," ujarnya.

Duta Biru Voices Bicara Udara, Tarida Gitaputri Butar-butar, mengatakan kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan mulai meningkat, meski pemahaman teknis soal polusi udara masih terbatas.

Menurutnya, sejumlah anak muda sudah mulai mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan, seperti menggunakan transportasi publik.

Namun, ia menekankan bahwa isu kualitas udara tidak bisa hanya dibebankan pada perubahan perilaku individu.

"Ini sebenarnya shared responsibility. Pemerintah juga punya peran besar untuk menghadirkan perubahan lewat kebijakan," kata Tarida.

>>> Generasi Muda Dorong Kebijakan Polusi Udara Lebih Efektif

Para pembicara menilai, tantangan utama saat ini adalah memperluas ruang partisipasi anak muda agar tidak berhenti pada kesadaran, tetapi juga masuk ke proses pengambilan keputusan dan kebijakan publik.