Anjuran tersebut merujuk pada sabda Rasulullah SAW:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

in1

Artinya: "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan."

Memperbanyak Sedekah dan Menyantuni Anak Yatim

Khutbah juga mengajak jamaah memanfaatkan Hari Asyura untuk meningkatkan kepedulian sosial. Salah satunya melalui sedekah dan perhatian kepada anak yatim.

Di tengah masyarakat Indonesia, 10 Muharram kerap dikenal sebagai momentum berbagi dengan anak yatim. Amal tersebut diharapkan menjadi jalan memperoleh keberkahan sekaligus menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap sesama.

Anjuran Melapangkan Nafkah Keluarga

Selain ibadah pribadi dan sosial, terdapat pula anjuran memberikan kelapangan nafkah kepada keluarga pada Hari Asyura.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي سَنَتِهِ كُلِّهَا

Artinya: "Barang siapa berbuat tausi'ah kepada keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan memberinya keleluasaan rezeki selama setahun penuh."

Karena itu, jamaah diajak memperkuat perhatian kepada keluarga melalui nafkah yang baik dan penuh rasa syukur.

Muhasabah dan Memperbanyak Istighfar

Pada khutbah kedua, pesan yang ditekankan adalah pentingnya menjadikan Muharram sebagai waktu evaluasi diri. Pergantian tahun hijriah dinilai sebagai kesempatan untuk memperbaiki amal dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Jamaah juga diajak memperbanyak istighfar serta memanjatkan doa Nabi Yunus AS:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."

Melalui berbagai amalan tersebut, Hari Asyura diharapkan menjadi sarana meningkatkan ketakwaan, memperbanyak kebaikan, serta memperkuat kepedulian kepada sesama.