Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengoptimalkan pembinaan usaha kecil dan menengah (UKM) melalui ekosistem Jakarta Entrepreneur (Jakpreneur).

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menyatakan program ini bertujuan agar UKM naik kelas dan memperkuat ketahanan ekonomi kota.

>>> Pelatih Panama Sebut Kekalahan 0-1 dari Ghana Sangat Menyakitkan

"UKM Jakarta harus mampu naik kelas.

Produk-produk UKM harus memiliki standar kualitas, kemasan, dan manajemen yang diakui secara internasional," kata Ratu dalam siniar bertema "Optimalisasi Pembinaan UKM melalui Ekosistem Jakpreneur" yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan, dua transformasi besar yang diinginkan adalah digitalisasi dan standardisasi global, serta kemandirian dan ketahanan ekonomi kota.

Ratu berharap melalui pendampingan yang terukur, UKM dapat beradaptasi dengan perubahan lansekap ekonomi global yang dinamis.

"Melalui sosialisasi, saya meminta kepada seluruh jajaran pembina, pendamping, dan para pelaku UKM untuk mengoptimalkan seluruh fasilitas yang ada di dalam ekosistem Jakpreneur," ujarnya.

>>> DuPont Hadirkan Inovasi Tyvek® Terbaru di Safe@Work 2026 Thailand

Ia menekankan UKM berperan krusial dalam mewujudkan target Jakarta menembus peringkat 20 besar kota global dunia.

Menurut Ratu, UKM merupakan tulang punggung dan penggerak ekonomi Jakarta, sehingga diperlukan cara yang lebih cepat, cerdas, dan terintegrasi dalam pembinaan melalui Jakpreneur.

"Jakpreneur bukan sekadar program biasa, tetapi sebuah ekosistem. Ini semua terintegrasi dengan teknologi digital dengan berkolaborasi antarsektor," ungkapnya.

Hingga 17 Juni 2026, tercatat sebanyak 421.688 anggota Jakpreneur telah bergabung dari total jumlah UMKM di Jakarta yang mencapai sekitar 1,3 juta.

>>> Persita Tangerang Lepas 13 Pemain Jelang Musim 2026/2027

Dari jumlah tersebut, sebanyak 300.668 anggota memiliki usaha yang terbagi dalam tiga sektor utama: kuliner (73,38 persen), fesyen (8,94 persen), kerajinan (3,40 persen), dan lainnya (14,28 persen).