Apabila hasil peninjauan MSCI tidak sesuai dengan ekspektasi, Faris memproyeksikan IHSG berisiko mengalami penurunan lanjutan hingga ke level 5.300.

Namun, sebagian besar dari risiko ini dinilai telah diantisipasi dan tercermin pada pergerakan pasar pekan sebelumnya.

"Kita akan proyeksikan IHSG kembali ke area 5.300, namun kami mengestimasikan potensi tersebut sudah di faktorkan pada pergerakan minggu lalu," tutur dia.

Faris menambahkan bahwa jika penilaian negatif MSCI berujung pada penurunan status ke kelompok frontier market, bursa domestik harus bersiap menghadapi arus modal keluar yang masif.

"Jika pasar turun ke frontier, kami mengestimasikan outflow sebesar Rp 200 triliun," lanjut Faris.

Dampak dari keputusan ini juga akan meluas hingga ke instrumen investasi lokal.

Indeks global seperti MSCI dan FTSE tidak sekadar menjadi acuan pemodal asing, melainkan juga digunakan sebagai basis bagi produk reksadana indeks dalam negeri.

>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS pada 17 Juni 2026

"Indeks ini tidak hanya sebagai benchmark modal asing dengan eksposur Indonesia, namun beberapa reksadana lokal juga menggunakan ini sebagai produk untuk klien mereka, sehingga outflow yang datang tidak hanya dari foreign, namun MI (manajemen investasi) lokal yang memiliki produk reksadana indeks terkait, sehingga penting untuk diperhatikan, karena dananya bersifat passive fund," beber Faris.