Nilai tukar rupiah yang masih tertekan, potensi pelebaran defisit anggaran, intervensi pemerintah pada sektor komoditas, serta isu tata kelola tetap menjadi perhatian investor.

Para analis memetakan tiga opsi tindakan yang mungkin diambil oleh MSCI dalam tinjauan tahun ini.

Opsi pertama adalah mempertahankan Indonesia di pasar berkembang setelah dilakukannya langkah eliminasi beberapa saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi pada Mei lalu.

Pilihan kedua yaitu menempatkan Indonesia dalam status pemantauan atau watchlist.

Pada posisi ini, regulator serta pelaku pasar domestik akan terus diawasi terkait implementasi perbaikan struktur pasar, transparansi data, dan mekanisme perdagangan.

>>> Rupiah Melemah 0,37 Persen ke Rp 17.755 per Dolar AS pada 17 Juni 2026

Sementara itu, skenario terburuk adalah penurunan status secara penuh menjadi frontier market.

Jika opsi ini yang diambil, posisi klasifikasi pasar modal Indonesia akan setara dengan Bangladesh dalam peta investasi global.

Dampak Aliran Dana Pasif dan Perbandingan Indeks

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menjelaskan bahwa agenda MSCI Market Accessibility Review memegang pengaruh paling vital terhadap pergerakan IHSG.

Hal ini disebabkan oleh besarnya volume dana kelolaan yang terikat pada indeks tersebut.

"Jika kita lihat dari sisi dana kelolaan, MSCI menjadi yang signifikan dengan estimasi AUM 250 miliar dollar AS hanya dari passive fund," ucap Faris.

Sebaliknya, pengaruh dari perubahan indeks FTSE dipandang relatif minim bagi pasar saham domestik.

Institusi global yang memiliki eksposur investasi di Indonesia jarang menggunakan FTSE sebagai benchmark utama, sehingga dampak aliran dananya tidak signifikan.

"Untuk FTSE tidak terlalu banyak institusi dengan eksposur Indonesia yang menggunakan benchmark index-nya, sehingga dari segi flow tidak signifikan," ucapnya.