Meski mendapatkan tekanan luar biasa, Ghalenoei mengapresiasi sambutan hangat dari masyarakat dan pemerintah Meksiko selama mereka mengungsi di Tijuana.

"The Mexican people, the Mexican government, especially the people in Tijuana, made us feel at home," jelas Ghalenoei.

Sementara itu, kapten sekaligus penyerang andalan Iran, Mehdi Taremi, turut mengecam situasi manajemen turnamen yang dinilainya sangat kacau dan penuh tekanan bagi psikologis pemain.

"Everything is like disaster, actually, for us," cetus Taremi.

Taremi mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya perlindungan dan bantuan nyata dari federasi sepak bola internasional.

"It's a lot of stress for the players and staffs and everyone, but we don't have that support, and I think FIFA have to help us more than this," keluh Taremi.

>>> Lenovo Siapkan Laptop Yoga Pro 9n Berbasis ARM dan Grafis Nvidia

Kondisi ini diperparah dengan proses imigrasi di perbatasan yang memakan waktu hingga lima jam hanya untuk perjalanan singkat ke Los Angeles.

Gelandang Iran, Mohammad Mohebi, mengonfirmasi bahwa jadwal perjalanan yang berantakan ini memicu kelelahan fisik akut pada otot-otot pemain menjelang laga berikutnya.

"Yesterday we came, started the trip in the morning, and we arrive [in the] afternoon. We directly go to train and we get tired.

This kind of deal is not fair … we’re going to get fatigued – hamstring, lower back, glutes …" urai Mohebi.

Respons FIFA dan Dukungan Infantino

Presiden FIFA, Gianni Infantino, dilaporkan sempat mengunjungi ruang ganti Iran setelah pertandingan selesai untuk memberikan motivasi langsung kepada seluruh skuad.

"You showed to your families, friends, to your people, to the world, that you’re in the World Cup, that you perform and you have two more games to go," ungkap Infantino.