Tanggal 12 Mei memiliki makna penting yang diperingati di tingkat nasional maupun internasional. Setiap tahunnya, tanggal ini menyimpan momentum bersejarah yang mengandung nilai perjuangan, pengabdian, dan kemanusiaan.

Di seluruh dunia, 12 Mei diperingati sebagai Hari Perawat Internasional atau International Nurses Day. Peringatan ini menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi profesi keperawatan.

>>> Laga Iran vs Selandia Baru Berakhir Imbang, Aksi Politik Warnai Tribun

Pemilihan tanggal 12 Mei didasarkan pada hari kelahiran Florence Nightingale. Tokoh asal Inggris tersebut diakui sebagai pelopor keperawatan modern berkat jasanya pada Perang Krimea di abad ke-19.

Florence Nightingale berkontribusi besar dalam memperkenalkan standar kebersihan rumah sakit dan pencatatan medis. Ia juga menerapkan sistem pelayanan pasien yang lebih manusiawi di dunia medis.

Organisasi kesehatan global biasanya mengusung tema khusus pada setiap peringatan ini. Isu yang diangkat meliputi peningkatan layanan kesehatan, kesejahteraan tenaga medis, hingga tantangan kesehatan global.

Di Indonesia, momentum ini menjadi ajang apresiasi bagi perawat di rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga wilayah terpencil. Peran mereka sebagai garda terdepan semakin disorot sejak terjadinya pandemi COVID-19.

Mengenang Hari Tragedi Trisakti

Selain peringatan global, tanggal 12 Mei menjadi lembaran sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Peristiwa Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998 melalui aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti.

>>> Empat Laga Piala Dunia 2026 Imbang Semua, Ulangi Sejarah 1958

Aksi tersebut digelar untuk menuntut reformasi pemerintahan di tengah situasi krisis ekonomi dan politik nasional. Namun, demonstrasi berujung ricuh setelah aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah massa.

Insiden tersebut menggugurkan empat mahasiswa Universitas Trisakti. Keempat korban tersebut adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hertanto, dan Hendriawan Sie.

Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tragedi ini menjadi titik balik penting dalam sejarah reformasi Indonesia. Gelombang protes mahasiswa dan masyarakat sipil semakin meluas setelah peristiwa ini.

Tekanan massa yang masif akhirnya mendorong pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Momentum tersebut sekaligus mengakhiri masa kepemimpinan Orde Baru yang telah berjalan lebih dari tiga dekade.

>>> Bigetron Vitality Juarai MPL Indonesia Season 17, Kalahkan ONIC 4-1

Saat ini, Tragedi Trisakti diperingati setiap tahun sebagai refleksi perjalanan demokrasi Indonesia. Peringatan ini menguatkan kembali pentingnya kebebasan berpendapat serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.