Warisan Hidup yang Sarat Makna

Suro memiliki posisi istimewa dalam kebudayaan Jawa.

Bulan ini sering dipahami sebagai momentum introspeksi, pengendalian diri, serta upaya mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta dan alam sekitarnya.

Karena itu, banyak ritual Suro tidak berorientasi pada pesta atau perayaan meriah. Sebaliknya, yang menonjol adalah simbol penyucian, perenungan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Tradisi jamasan pusaka di Ponorogo, misalnya, bukan sekadar membersihkan benda bersejarah. Prosesi itu menyiratkan pesan tentang merawat nilai-nilai yang diwariskan generasi terdahulu.

Hal serupa tampak pada tradisi Grebeg Suro di Lumajang.

Ritual memendam kepala sapi di kawasan mata air bukan sekadar upacara adat, melainkan simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan yang menopang masyarakat sekitar Gunung Semeru.

>>> BPBD Sulbar Imbau Masyarakat Tetap Tenang Pasca-Gempa 6,7 M di Palu

Dalam konteks krisis lingkungan yang semakin nyata, pesan itu justru menjadi semakin relevan.