Kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi jenis Pertamax belum memengaruhi operasional harian sebagian pengemudi ojek online di Jakarta dan Depok pada Selasa (16/6/2026).

Mayoritas pengemudi tetap mengandalkan Pertalite untuk menekan biaya di tengah ketatnya persaingan mendapatkan order.

>>> Promo Hypermart 24-27 April 2026: Diskon Produk Segar Akhir Pekan

Kondisi di lapangan menunjukkan pengemudi ojek online harus mengatur strategi pengeluaran.

PT Pertamina Patra Niaga telah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter sejak Rabu (10/6/2026).

Pengemudi Ojol Beralih ke Pertalite

Pengemudi ojek online asal Depok, Abdulloh, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi tersebut tidak memberikan dampak secara langsung terhadap pengeluaran hariannya saat ini.

"Kenaikan Pertamax belum terlalu berdampak karena saya masih memakai Pertalite. Namun ke depannya pasti akan terasa juga," ujarnya.

Kestabilan jumlah pesanan harian dinilai Abdulloh menjadi tantangan yang lebih krusial saat ini.

>>> Pemprov DKI Gratiskan Tiket Masuk Ragunan dan Ancol Juni 2026

Menurutnya, fluktuasi pendapatan para pengemudi sangat bergantung pada kuantitas orderan yang berhasil didapatkan setiap hari.

Tantangan serupa dirasakan oleh pengemudi ojek online lain bernama Aziz yang memutuskan mengubah konsumsi bahan bakarnya.

Dia memilih kembali mengonsumsi BBM bersubsidi demi menjaga pengeluaran harian tetap stabil meskipun harus menghadapi antrean panjang.

"Setelah harga Pertamax naik, saya tidak sanggup lagi menggunakannya setiap hari. Akhirnya kembali pakai Pertalite," katanya.

Para pengemudi ojek online tersebut menilai bahwa kuantitas pesanan yang masuk tetap menjadi indikator utama dalam menentukan pendapatan harian mereka.

>>> Juan Manuel Sanabria Ubah Dinamika Uruguay saat Tahan Arab Saudi

Para mitra pengemudi kini berharap adanya langkah dukungan dari pemerintah dan perusahaan aplikator untuk menjaga kesejahteraan mereka.