Gharibabadi menutup pernyataannya dengan menegaskan kekalahan pihak musuh dalam mencapai target operasi mereka.

"Musuh yang menyerang untuk melaksanakan tujuan jahatnya telah dikalahkan dalam semua tujuannya dan Republik Islam Iran memenangkan kemenangan besar dalam perang," ujar Gharibabadi.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran turut merilis pengumuman resmi mengenai finalisasi teks perjanjian yang dilakukan atas arahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei.

"Berdasarkan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, teks MoU mengenai negosiasi penghentian perang antara Iran dan AS telah difinalisasi pada 15 Juni malam," demikian pernyataan SNSC.

Sejumlah pemimpin dunia memberikan respons positif atas kesepakatan damai ini, di antaranya Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang mendorong implementasi cepat demi keamanan global.

"Saya menyerukan implementasi yang cepat dan penuh oleh semua pihak yang berperang.

Perjanjian ini harus memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara mendesak dan tanpa syarat, yang siap didukung oleh misi internasional yang didirikan bersama Inggris," tegas Macron.

Kanselir Jerman Friedrich Merz memuji terobosan diplomatik ini sebagai pembuka jalan bagi stabilitas ekonomi dan keamanan Timur Tengah.

"Sangat penting untuk menerapkannya dengan tekad yang kuat," tambah Merz.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyambut baik perkembangan positif ini dan mendorong seluruh pihak mempertahankan momentum deeskalasi.

"Indonesia menyambut baik laporan mengenai kesepakatan yang dicapai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran sebagai perkembangan positif menuju penyelesaian konflik secara damai serta kemajuan bagi perdamaian, keamanan, dan stabilitas kawasan," tulis Kemlu RI di akun X.

Kemlu RI juga memberikan apresiasi kepada para mediator internasional yang memfasilitasi dialog.

"Kami memuji upaya seluruh pihak dan mediator yang telah berkontribusi secara konstruktif dalam memfasilitasi dialog dan mendorong penyelesaian perbedaan secara damai," lanjut pernyataan tersebut.

Indonesia kembali mengingatkan pentingnya menahan diri dalam situasi transisi ini demi tercapainya stabilitas keamanan berkelanjutan.

"Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk terus menahan diri, memegang teguh komitmen mereka, dan terlibat secara konstruktif dalam dialog guna mempertahankan momentum menuju deeskalasi," tulis Kemlu RI.

>>> DPR Dorong Ditjen Pajak Perkuat Aturan Pemajakan Perusahaan Digital

Meskipun demikian, media Israel Ynet melaporkan adanya kekecewaan besar dari kalangan pejabat senior Israel yang menganggap kesepakatan ini mengkhianati kepentingan utama mereka, walaupun PM Benjamin Netanyahu secara terbuka mengapresiasi penarikan uranium dari Iran.