Mantan penjaga gawang itu sebelumnya pernah masuk skuad Spanyol pada Piala Dunia 1994 tanpa bermain, dan dipecat dari kursi pelatih Timnas Spanyol sebelum Piala Dunia 2018.

>>> Paulo Dybala Beri Sinyal Tinggalkan AS Roma

"Itu hari paling menyedihkan dalam hidup saya," ujar Lopetegui dalam wawancara dengan The Guardian mengenai pemecatannya.

Setelah pemecatan itu, Lopetegui melatih empat klub berbeda sebelum akhirnya menangani Qatar sejak Mei 2025.

Ia berhasil membalikkan keadaan dan mengamankan tiket putaran final melalui kualifikasi mandiri untuk pertama kalinya.

"Saya tidak pernah berhenti bekerja sejak saat itu, Anda tidak pernah menoleh ke belakang, dan pengalaman itu membuat Anda lebih tangguh," ujar Lopetegui.

Ia menegaskan bahwa semua keputusan profesionalnya didasari rasa hormat terhadap tanggung jawab sebagai pelatih. "Jika Anda bertanya kepada saya: 'Apakah Anda akan tetap melakukan hal yang sama?'

100 persen. Karena kami selalu mengambil keputusan yang benar dari posisi yang menghormati tanggung jawab kami."

Di Grup B, Qatar bersaing dengan Swiss, Kanada, dan Bosnia-Herzegovina.

Lopetegui sadar timnya tidak diunggulkan, tetapi ia memastikan anak asuhnya tidak datang hanya untuk bermain tiga pertandingan lalu pulang.

"Saat Anda pergi ke Piala Dunia, Anda bisa berpikir: 'Astaga, ini sukses besar.' Dan memang ini sukses besar, tetapi Anda tak bisa cuma terpaku ke sana," ujar Lopetegui.

Ia menuntut fokus penuh pada persiapan taktik dan daya juang. "Anda tidak bisa berpikir: 'Sudah selesai.'

Tidak. Tidak mungkin.

Itu sebuah kesalahan. Jadi sekarang kami harus 'mengasah tombak' kami dan bersaing."

Eforia masyarakat Qatar atas kelolosan ke putaran final dinilai wajar, namun skuad berjuluk The Maroon ini menegaskan hak mereka untuk berjuang.

>>> Jadwal Siaran Langsung UFC Freedom Night 250 di Vidio 15 Juni 2026

"Kami pergi ke Piala Dunia untuk bersaing. Kami memiliki hak untuk mencoba (berjuang)," jelas Lopetegui.