Pelanggaran aturan konser, terutama terkait larangan kamera profesional, kerap memicu konflik kecil yang meluas menjadi perdebatan lintas negara.

Pertanyaannya, apakah ini sekadar soal kamera atau ada akumulasi emosi yang lebih dalam?

>>> Prospek Mata Uang Asia Semester II 2026 Ditentukan Kebijakan The Fed

Seorang penggemar K-pop yang telah menonton konser sejak 2012 menceritakan pengalamannya. Ia menyaksikan evolusi fandom dari masa lightstick sederhana hingga era kamera ponsel yang menyala serempak.

Aturan larangan kamera profesional hampir selalu konsisten di setiap konser. Namun, dalam praktiknya, masih ada yang merasa aturan itu tidak berlaku bagi mereka.

Konser sebagai Ruang Bersama

Konser pada dasarnya adalah ruang kolektif. Penonton membeli tiket dengan harga setara, mengantre dengan sabar, dan berharap dapat melihat idola tanpa terhalang.

Ketika seseorang mengangkat kamera profesional besar tepat di depan wajah penonton lain, dampaknya nyata. Ruang pandang terganggu, ruang bernapas terasa sempit, dan momen bersama menjadi kurang nyaman.

Dalam sejumlah konser K-pop, kamera profesional sering dibawa oleh fansite luar negeri, khususnya dari Korea. Frekuensi kejadian itu cukup membentuk kesan tersendiri.

Konflik yang Melebar

Konflik ramai diperbincangkan bermula dari konser DAY6 di Kuala Lumpur. Seorang fansite asal Korea disebut membawa kamera profesional besar meskipun aturan venue melarangnya.

Penonton lokal keberatan, video dan keluhan menyebar di media sosial. Perdebatan melebar menjadi adu argumen antara warganet Asia Tenggara dan Korea.

Konflik jarang meledak hanya karena satu kejadian. Biasanya ada akumulasi pengalaman dan emosi yang belum terselesaikan.

Di Asia Tenggara, ada memori kolektif tentang perasaan diremehkan.

Istilah "SEAblings" (gabungan Southeast Asia dan siblings) muncul sebagai simbol solidaritas regional. Solidaritas ini lahir dari pengalaman emosional yang dirasakan bersama.