Sementara dari sisi domestik, masing-masing negara memperoleh dukungan dari faktor fundamental yang berbeda.

Won Korea Selatan ditopang ekspektasi pengetatan kebijakan moneter seiring kenaikan inflasi, peso Filipina mendapat sentimen positif dari inflasi yang mulai melandai, sedangkan rupiah memperoleh dukungan dari keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%.

Menurut Rizal, penguatan rupiah yang hanya berlangsung beberapa hari setelah kenaikan suku bunga BI tidak dapat diartikan sebagai kegagalan kebijakan moneter.

Ia menegaskan tujuan utama kenaikan suku bunga adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik, bukan semata-mata mendorong apresiasi rupiah dalam jangka pendek.

Untuk semester II-2026, Rizal memperkirakan rupiah berpeluang bergerak lebih stabil.

Dukungan kebijakan Bank Indonesia, potensi masuknya kembali aliran modal asing, serta meningkatnya minat investor terhadap aset domestik dapat menjadi penopang pergerakan rupiah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa arah dolar AS, kebijakan The Fed, serta perkembangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang akan menentukan pergerakan rupiah ke depan.

>>> TVRI Siarkan Gratis Piala Dunia 2026 Lewat Jaringan Digital

"Selama faktor-faktor tersebut tetap terkendali, stabilitas rupiah berpotensi terjaga pada semester II-2026," kata Rizal.