Wacana penggunaan genteng secara seragam untuk memperindah wajah kota sempat mencuat dalam rapat koordinasi nasional kepala daerah.

Namun, pemilihan material penutup bangunan tidak bisa hanya mengandalkan estetika atau tradisi.

>>> Kawasaki Resmi Pasarkan Modenas Brusky 125 di Jakarta Fair 2026

Karakteristik geografis Indonesia yang beragam, mulai dari iklim hingga kerawanan bencana, menuntut jenis atap yang berbeda di setiap daerah.

Anggapan bahwa genteng adalah solusi universal perlu ditinjau kembali.

Risiko Gempa dan Bobot Material

Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik dengan aktivitas seismik tinggi. Daerah seperti Palu, Gunungsitoli, dan Yogyakarta rawan gempa.

Bobot atap menjadi faktor krusial.

Genteng tanah liat atau beton yang berat berisiko meruntuhkan struktur rumah saat gempa, apalagi jika konstruksi kurang kokoh.

Material ringan seperti seng, spandek, atau bitumen lebih aman karena mengurangi risiko cedera akibat genteng jatuh.

>>> Shakira Tampil di Piala Dunia 2026 Tanpa Bayaran, Ini Alasannya

Tantangan di Pesisir dan Kepulauan

Wilayah pantai menghadapi angin kencang dan korosi. Genteng tanah liat yang hanya disusun tanpa pengikat kuat mudah terlepas.

Di kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur dan Maluku, logistik menjadi kendala. Genteng mudah pecah saat dikirim dan biaya distribusinya mahal dibanding material lembaran.

Curah Hujan Tinggi dan Lahan Gambut

Intensitas hujan tinggi di pegunungan Tana Toraja menyebabkan rembesan air pada celah atap. Kelembapan juga mempercepat pertumbuhan lumut yang merusak genteng.

Di Kalimantan dan Sumatera, tanah gambut yang lunak menuntut bobot bangunan seringan mungkin. Atap logam atau sirap kayu lebih cocok daripada genteng berat.

Menghormati Arsitektur Lokal

Penerapan satu jenis material secara massal dapat mengikis nilai arsitektur lokal. Rumah adat Tongkonan di Toraja menggunakan bambu melengkung yang telah teruji.

>>> Studi: Glucosamine Tingkatkan Risiko Demensia, Layar Bantu Pemulihan Gegar Otak Anak

Mengganti material tradisional tidak hanya tidak sesuai teknis, tetapi juga menghilangkan makna budaya. Keberagaman desain yang adaptif justru mencerminkan arsitektur yang bijak.