Asosiasi ojek online Garda Indonesia menyatakan bahwa lonjakan harga BBM Pertamax tidak memicu dampak besar bagi para pengemudi di lapangan.

Pasalnya, mayoritas pengemudi ojek daring menggunakan bahan bakar bersubsidi jenis Pertalite. Berdasarkan data asosiasi, persentase pengemudi yang mengandalkan Pertalite mencapai lebih dari 95 persen.

>>> BYD Great Han: Sedan Listrik dengan Tenaga 764 HP, Lebih Kuat dari McLaren 750S

Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta menyusul adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Dikutip dari Detik Oto, harga Pertamax naik drastis menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter pada Kamis (11/6).

Selain itu, varian Pertamax Green juga mengalami lonjakan harga dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

"Untuk saat ini fluktuasi harga BBM nonsubsidi tidak berpengaruh signifikan pada operasional ojol, karena 95% pengemudi ojol adalah pengguna BBM subsidi sehingga relatif stabil biaya operasionalnya," ujar Raden Igun Wicaksono, Ketua Umum Garda Indonesia.

>>> Siam Bodykit Luncurkan Paket Modifikasi Macross V4 untuk Jaecoo J5

Kenaikan Suku Cadang Jadi Beban Tambahan

Selain persoalan bahan bakar, para pengemudi ojek daring juga dihadapkan pada tantangan lain berupa kenaikan harga suku cadang kendaraan.

Berdasarkan pantauan di bengkel umum, harga komponen pelengkap seperti oli dan ban mengalami kenaikan hingga mencapai 20 persen.

"Sedangkan pendapatan pengemudi ojol belum mengalami peningkatan, bahkan cenderung stagnan atau malah menurun," kata Raden Igun Wicaksono.

>>> Sewa Baterai Motor Listrik: Tantangan Finansial Saat Berhenti Berlangganan

Kondisi stagnasi pendapatan yang berbarengan dengan kenaikan harga suku cadang tersebut kini menjadi beban tambahan bagi stabilitas ekonomi para mitra driver di Indonesia.