PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026.

Pendapatan perusahaan naik 10% year on year (YoY) menjadi US$69 juta, sementara laba bersih tumbuh 22% YoY menjadi US$18 juta.

>>> Ekonom: Target Rupiah Rp16.800 di 2027 Bisa Tercapai, tapi Tidak Mudah

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan kinerja solid tersebut terjadi meskipun produksi tertekan akibat aktivitas pushback di tambang terbuka River Reef.

Menurutnya, masih ada ruang perbaikan signifikan ketika hambatan operasional hilang.

Pemulihan produksi diperkirakan mulai terjadi pada Juni 2026 setelah proses pit pushback selesai.

Selain itu, ekspansi kapasitas carbon-in-leach (CIL) pertama di Citra Palu Minerals dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari ditargetkan rampung pada kuartal IV-2026.

"Dengan demikian, ke depan kinerja emiten diekspektasikan lebih kuat," ujar Harry Su kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Harga Emas Global Masih Mendukung

Meskipun harga emas global dalam tren penurunan, Harry menilai harga masih di atas US$4.000 per troy ons, di atas rata-rata tahun 2025.

Secara tahunan, pendapatan BRMS tetap berpotensi tumbuh karena penurunan harga bisa dikompensasi kenaikan volume produksi pasca-pushback dan ekspansi kapasitas CIL.

Sentimen yang perlu diperhatikan meliputi kebijakan suku bunga The Fed, data inflasi AS, dan dinamika geopolitik Timur Tengah.

Faktor-faktor ini mempengaruhi harga emas global.

Proyek Ekspansi dan Tambang Bawah Tanah

Analis Ajaib Sekuritas Asia, Rizal Rafly, melihat kemajuan operasional di kawasan tambang PT Citra Palu Mineral (CPM), anak usaha BRMS.

Perluasan pabrik CIL dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari berjalan sesuai rencana dan akan mendukung pertumbuhan pada semester kedua 2026.