Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mendorong konsumen di Jalur Pantura Kabupaten Subang, Jawa Barat, beralih menggunakan Pertalite.

Perubahan pola konsumsi ini terjadi sejak harga Pertamax naik signifikan pada awal pekan ini.

>>> DPR Sahkan Revisi UU P2SK, Industri Kripto Dapat Payung Hukum Baru

Berdasarkan pantauan di SPBU Al-Maskar Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, antrean kendaraan terlihat padat di jalur pengisian Pertalite.

Sebaliknya, area Pertamax tampak lengang setelah harga disesuaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Pengawas SPBU Al-Maskar Ciberes, Sunardi, mengatakan perubahan harga langsung mengubah pilihan konsumen secara drastis. "Sejak harga Pertamax naik, banyak konsumen beralih ke Pertalite.

Permintaan Pertalite meningkat, sementara pengguna Pertamax menurun," ujarnya.

Lonjakan permintaan Pertalite menyebabkan stok BBM bersubsidi habis lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini diperparah oleh hambatan dalam proses distribusi pasokan.

>>> Amalkan Doa Allahumma Yassir Wala Tuassir saat Hadapi Kesulitan

Data internal SPBU menunjukkan volume penjualan Pertamax merosot dari rata-rata 3 ton per hari menjadi sekitar 2 ton per hari.

Penurunan ini mempertegas pergeseran konsumen ke bahan bakar yang lebih murah.

Seorang pengguna jalan, Darma, mengaku kaget dengan kenaikan harga Pertamax. Meski demikian, ia tetap menggunakan Pertamax karena sudah terbiasa.

"Harapannya harga BBM nonsubsidi tidak terus naik," katanya.

>>> BYD M6 DM Siap Tantang Dominasi Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid

Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah. Namun, kebijakan ini tidak berdampak langsung pada moda transportasi umum.