Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekosistem pinjaman daring (pindar) yang sehat dan berdampak nyata.

Industri ini dinilai berperan penting membuka akses keuangan bagi masyarakat yang selama ini tidak terjangkau perbankan formal.

>>> Korea Selatan Tekuk Republik Ceko 2-1 di Piala Dunia 2026

Data industri mencatat total akumulasi penyaluran pinjaman telah melampaui Rp 1.388 triliun.

Lebih dari 169 juta borrower aktif telah terlayani, dengan 38 hingga 40 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM yang mendapatkan akses pendanaan pertama kali.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyoroti ketidakseimbangan narasi yang selama ini beredar. Menurutnya, jutaan borrower yang berhasil melunasi pinjaman tepat waktu jarang menjadi sorotan.

"Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang yang tidak punya rekam jejak perbankan. Mereka meminjam untuk modal usaha, biaya sekolah, atau tambal arus kas, dan melunasi tanpa masalah.

Cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini," ujar Firlie dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

AFTECH secara aktif memastikan seluruh anggota beroperasi dengan tata kelola ketat, transparan dalam biaya dan bunga, serta memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang terstandar.

"Kepercayaan adalah fondasi utama industri ini. Kami bukan sekadar asosiasi administratif, melainkan mitra aktif membangun kepercayaan kepada pengguna, regulator, dan masyarakat," tegas Firlie.

Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menggambarkan perubahan perilaku ekonomi penggunanya.

"Kami melihat borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya karyawan dan masuk ke ekosistem perbankan formal.

>>> Gilberto Mora Cetak Sejarah sebagai Pemain Termuda Meksiko di Piala Dunia

Pindar adalah titik masuk, bukan titik akhir," katanya.