Nilai tukar rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan tengah pekan ini.

Mata uang Garuda mencatatkan kenaikan sebesar 0,25 persen ke posisi Rp 17.930 per dolar AS.

>>> Pemerintah Permanenkan Tarif PPh Final UMKM 0,5 Persen

Angka tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.975 per dolar AS.

Penguatan rupiah diikuti oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Won Korea Selatan memimpin penguatan setelah melonjak 0,69 persen ke level 1.521,1 per dolar AS.

Sebelumnya, won ditutup di angka 1.531,6 per dolar AS.

Selain rupiah dan won, beberapa mata uang Asia lainnya juga menguat terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia naik 0,17 persen ke posisi 4,057, yuan China menguat 0,11 persen ke level 6,765, dan dolar Singapura naik 0,09 persen ke angka 1,285 per dolar AS.

Meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pendorong utama penguatan mata uang Asia.

>>> Aplikasi Resmi dan Mesin Pencari Mudahkan Cek Live Score Piala Dunia 2026

Sentimen positif ini berpotensi meredakan tekanan terhadap harga energi global sekaligus mengurangi kekhawatiran inflasi di AS.

Namun, tidak semua mata uang kawasan bergerak di zona hijau.

Yen Jepang melemah 0,19 persen ke level 160,23 per dolar AS, peso Filipina turun 0,15 persen ke angka 61,062, dolar Taiwan melemah 0,12 persen ke posisi 31,67, dan baht Thailand turun tipis 0,02 persen ke level 32,815 per dolar AS.

Meskipun mencatatkan performa positif pada perdagangan Rabu, sebagian besar mata uang Asia sejatinya masih mengalami depresiasi terhadap dolar AS sejak awal tahun berjalan.

Rupiah bahkan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan setelah terdepresiasi sekitar 7,03 persen dari posisi akhir 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS.

Pelemahan yang lebih dalam dari rupiah hanya dialami oleh won Korea Selatan yang merosot 5,36 persen serta rupee India yang jatuh 6,15 persen sepanjang tahun berjalan.

>>> The Palace Jeweler dan Huawei Luncurkan Koleksi Perhiasan Serenata

Sebaliknya, yuan China tampil sebagai mata uang dengan performa terbaik di kawasan setelah berhasil menguat sekitar 3,3 persen terhadap dolar AS dibandingkan posisi akhir tahun lalu.