Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama para sekutunya dilaporkan tengah mendesak Kongres untuk menerbitkan resolusi resmi yang membatalkan dua keputusan pemakzulan (impeachment) terhadap dirinya.

Langkah politik ini diambil untuk membersihkan rekam jejak politik Trump dari dakwaan yang pernah dijatuhkan saat ia memimpin pada periode pertama.

>>> Delta Giri Wacana Bagikan Dividen Tunai Rp88,23 Miliar

Informasi tersebut diperoleh dari laporan pihak Gedung Putih, seperti dikutip pada Kamis (11/6/2026).

Dua Kali Dimakzulkan, Dua Kali Lolos

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS telah menjatuhkan vonis pemakzulan sebanyak dua kali terhadap Donald Trump.

Dakwaan pertama menuduhnya melakukan penyalahgunaan kekuasaan, namun Senat membebaskannya pada awal tahun 2020.

Perkara kedua muncul akibat tuduhan menghasut pemberontakan terkait penyerangan kompleks United States Capitol oleh para pendukungnya pada 6 Januari 2021.

Meski menghadapi dua gelombang tuntutan besar, Trump selalu berhasil lolos dari sanksi pencopotan jabatan.

Narasi ketidakadilan impeachment ini bahkan menjadi modal utama kampanyenya pada pemilu 2024 hingga berhasil mengalahkan Kamala Harris.

>>> Cemas Menjelang Senin Pagi? Psikolog Ungkap Bedanya dengan Gangguan Mental

Dorongan kepada anggota parlemen ditujukan agar mereka segera menyetujui resolusi pembatalan simbolis tersebut.

Pihak eksekutif AS menyatakan komitmen untuk mengawal proses legislasi ini agar berjalan cepat di Kongres.

Namun, para pakar menilai pengesahan draf tersebut hanya akan menjadi simbol politik semata.

Resolusi ini tidak memiliki kekuatan hukum mengikat karena Konstitusi AS tidak menyediakan jalur hukum untuk menghapus proses pemakzulan yang sudah selesai.

Menanggapi situasi ini, juru bicara pemerintah menilai wajar jika publik melihat kekeliruan dalam proses hukum masa lalu.

Banyak pihak pendukung yang menganggap tuntutan lama itu tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

>>> Timnas Indonesia U-19 Gagal ke Final Piala AFF Usai Kalah dari Australia

"Sudah sewajarnya orang-orang yang berpikiran sehat menyadari bahwa upaya-upaya tersebut merupakan tindakan yang tidak berdasar dan tertarik untuk membatalkan langkah yang memalukan itu," kata Abigail Jackson.