Pendekatan baru dalam pembelajaran ekonomi mulai bergeser dari sekadar indikator angka objektif.

Riset terbaru Cornell University menemukan pentingnya menghadirkan unsur kebahagiaan dalam studi ekonomi agar lebih relevan dengan kehidupan nyata mahasiswa.

>>> Rekayasa Lalu Lintas di Sekitar Jakarta Fair 2026 Mulai 12 Juni

Ori Heffetz, profesor ekonomi di Samuel Curtis Johnson Graduate School of Management, menyatakan mahasiswa ekonomi sepatutnya mempelajari proses manusia dalam meraih kebahagiaan.

Peneliti mendorong agar kebahagiaan serta kepuasan hidup dipelajari secara langsung di ruang kelas.

"Ekonomi terlalu lama berfokus pada indikator objektif seperti pendapatan atau inflasi. Padahal itu tidak selalu mencerminkan bagaimana perasaan orang sebenarnya," ujarnya.

Gagasan tersebut dituangkan dalam makalah ilmiah berjudul Teaching Happiness (Economics) in Your Dismal-Science Courses yang terbit di The Journal of Economic Education.

Tim peneliti terdiri dari gabungan ahli ekonomi Cornell University, London School of Economics, dan Santa Clara University.

Para peneliti berargumen bahwa indikator kesejahteraan masyarakat dan kepuasan hidup kini sudah dapat diukur secara ilmiah melalui survei global, serupa dengan penghitungan GDP.

Instrumen yang digunakan meliputi Cantril Ladder dengan skala 0 hingga 10 untuk menilai kehidupan saat ini dan masa depan, serta survei emosi kejiwaan seperti rasa bangga, sedih, atau cemas.

>>> Derrick Michael Resmi Gabung Klub Jepang Saga Ballooners

Metode Praktis Pembelajaran Ekonomi Kebahagiaan

Tim riset membagikan sejumlah rekomendasi praktis bagi dosen yang ingin mengintegrasikan riset kebahagiaan ke dalam materi perkuliahan.

Langkah pertama adalah menerapkan survei pribadi pada awal semester untuk meminta mahasiswa menilai tingkat kepuasan hidup mereka secara mandiri.

Data personal tersebut menjadi pembanding sebelum dan sesudah mahasiswa mendalami teori ekonomi kesejahteraan. Selanjutnya, pengajar diharapkan mampu mengaitkan teori ekonomi dengan pengalaman riil manusia.

Sebagai contoh, pembahasan materi pengangguran dapat diperluas dengan menganalisis dampak psikologis hilangnya pekerjaan terhadap kebahagiaan sebuah keluarga.

Langkah terakhir adalah membuka ruang refleksi melalui aktivitas sederhana seperti menulis jurnal tentang kepuasan hidup.

Metode ini dipercaya mampu membantu mahasiswa memahami ilmu ekonomi dari sisi kemanusiaan, bukan sekadar teori pasar dan angka statistik semata.

>>> Fenomena Underemployment Kikis Kepercayaan Diri Lulusan Perguruan Tinggi

"Mahasiswa sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang membuat orang bahagia. Topik ini membantu mereka melihat bagaimana ekonomi berhubungan langsung dengan kehidupan mereka sendiri," tutup Heffetz.