Fenomena underemployment mulai mengikis kepercayaan diri sejumlah lulusan perguruan tinggi berprestasi. Mereka merasa kapasitas intelektualnya menurun karena bekerja di posisi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan.

Psikolog dari Ibunda. id, Danti Wulan Manunggal, mengonfirmasi kondisi ini pada Kamis (11/6/2026).

>>> Honda Prelude Alami Goreng Harga hingga Rp 1,4 Miliar

Menurutnya, penurunan motivasi dipicu oleh situasi ketika keterampilan akademis tidak dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Dampak psikologis utama dari underemployment adalah erosi self-efficacy atau pudarnya keyakinan individu dalam menyelesaikan tantangan. Minimnya ruang aktualisasi diri membuat pekerja merasa kapasitas intelektual mereka menurun.

"Ketika kemampuan analisis atau pemecahan masalah yang rumit tidak pernah digunakan, individu mulai meragukan apakah mereka benar-benar kompeten," ujar Danti.

Perubahan persepsi diri ini mengikis rasa percaya diri yang dibangun lewat prestasi akademik.

>>> UPNVJ Rilis UKT dan IPI Seleksi Mandiri 2026, Cek Rinciannya

Pekerja yang terjebak dalam rutinitas kompleksitas rendah lambat laun kehilangan bukti nyata atas kompetensi mereka. Mereka merasa "tumpul" secara intelektual, lanjut Danti.

Situasi ini berbeda dengan fase adaptasi karier biasa yang bersifat sementara. Kondisi dinyatakan berbahaya jika pekerja mulai menunjukkan kecemasan intens, gangguan tidur, atau sikap apatis.

"Situasi sudah berdampak negatif jika mulai menyalahkan diri sendiri, merasa terjebak dalam keputusasaan, dan menganggap diri sebagai produk gagal," kata Danti.

Untuk mengantisipasi dampak buruk, lulusan muda disarankan tidak mengaitkan seluruh identitas diri hanya pada pekerjaan saat ini.

>>> Shakira dan Burna Boy Meriahkan Pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko

Aktualisasi potensi dapat disalurkan melalui proyek sampingan, aktivitas komunitas, atau kursus minat.