Skema pembelian motor listrik kini semakin beragam, salah satunya dengan memisahkan kepemilikan komponen termahal.

Dua metode yang populer adalah sistem sewa baterai (battery renting) dan sistem tukar baterai (battery swap).

>>> Thomas Tuchel Beri Libur Tambahan Pemain Timnas Inggris

Meski sekilas terlihat serupa, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari aspek kepemilikan aset. Perbedaan mencolok terletak pada kejelasan status kepemilikan komponen sejak awal transaksi.

Sistem Sewa Baterai

Hendro Sutono, pegiat kendaraan listrik sekaligus juru bicara KOSMIK, menjelaskan bahwa pada sistem sewa baterai, garis batas kepemilikan ditarik sangat tegas oleh pabrikan atau vendor.

Pembeli hanya memiliki unit motor tanpa baterai, modul IoT, dan alat pengisian daya. Seluruh perangkat tersebut tetap milik perusahaan vendor.

Konsumen membayar biaya langganan bulanan atau berdasarkan kuota pemakaian energi, mirip sistem pascabayar.

>>> IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas Usai Melemah ke 5.886

Keuntungannya, pengguna tidak perlu khawatir dengan penurunan performa baterai karena vendor bertanggung jawab mengganti komponen yang menurun tanpa biaya tambahan.

Sistem Tukar Baterai

Pada skema tukar baterai (battery swap), transaksi pertama sudah mencakup motor listrik beserta baterainya. Secara hukum, baterai pertama menjadi aset pribadi konsumen.

Namun, untuk mengejar mobilitas efisien, pemilik biasanya bergabung ke ekosistem penukaran massal. Mereka menandatangani kesepakatan untuk memasukkan baterai ke dalam jaringan stasiun penukaran milik perusahaan.

Baterai pribadi melebur ke dalam jaringan bersama, sehingga konsumen terus menukarkan baterai dengan unit lain di stasiun terdekat.

>>> Real Madrid Rekrut Dua Bek Elite Setelah Resmikan Jose Mourinho

Akibatnya, baterai yang didapat bisa memiliki usia pakai dan tingkat kesehatan yang bervariasi, namun tetap memenuhi standar kelayakan operator.