"Jadi fermentasinya dilakukan dengan perendaman bahan baku dan sayuran selama dua-tiga hari," terangnya.

Produk asinan fermentasi Niekting resmi diluncurkan ke pasar pada Oktober 2020 di tengah situasi pandemi COVID-19.

Inna mampu memproduksi sekitar 1.000 pcs setiap bulan untuk dipasarkan ke wilayah Jabodetabek.

Usaha ini melibatkan lima pekerja utama yang sistem kerjanya diatur per batch demi menyesuaikan ritme produksi.

"Kita berdayakan pekerja dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan dan pekerja berusia lanjut, yang berperan penting dalam membantu proses produksi," ungkapnya.

Inovasi kemasan juga terus ditingkatkan dari yang semula menggunakan styrofoam menjadi thin wall dan standing pouch.

>>> Babak Pertama Indonesia vs Australia di Semifinal Piala AFF U19 2026 Berakhir 0-0

Kemasan modern ini membuat produk mampu bertahan lebih dari dua bulan di dalam media penyimpanan suhu 4-7 derajat celsius.

"Kira-kira setelah dikeluarkan dari storage Niekting yang bersuhu 4-7 derajat celcius, asinan bisa bertahan di perjalanan selama tiga hari sampai diterima oleh pelanggan," kata Inna.

Metode pengiriman ini jauh lebih maju dibandingkan era sang ibu yang masih menggunakan rantang untuk pengantaran jarak dekat.

Pendampingan Intensif Rumah BUMN BRI

Perkembangan bisnis Niekting semakin pesat setelah Inna bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN Jakarta yang dikelola oleh BRI.

Ia mendapatkan informasi pelatihan peningkatan usaha ini melalui media sosial.

Rumah BUMN BRI memberikan pendampingan intensif mulai dari perbaikan konten, pengaturan keuangan, hingga fasilitasi foto produk. Program ini berhasil mengubah pola pikir Inna menjadi seorang entrepreneur.

"Kalau bukan entrepreneur, larinya hanya sekadar jualan saja dari bazar ke bazar. Padahal untuk menaikkan kelas, kategorinya banyak.