Inna diarahkan untuk fokus pada satu produk kuliner unggulan yang memiliki karakter rasa kuat di Jakarta. Pilihan akhirnya jatuh pada asinan yang dahulu memiliki rekam jejak manis.

Asinan racikan ibunya dahulu tidak hanya dinikmati oleh tetangga dekat, melainkan juga oleh para ekspatriat.

Kuliner ini bahkan sempat masuk ke kantin Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

"Itu memang Mama waktu zamannya dia, itu masuk ke kantinnya Kedutaan Amerika. Kita udah masuk ke sana.

Ya artinya itu udah uji coba bahwa pihak luar, bule, itu suka makanan kita gitu kan," ungkapnya.

Sayangnya, usaha sang ibu terpaksa mati suri pada tahun 1990 karena keterbatasan sumber daya manusia. Resep tersebut sempat tersimpan rapat selama hampir tiga puluh tahun lamanya.

"Kata Mama resepnya masih ada, diteruskan saja. Iya juga ya, pikir saya," tutur Inna mengingat pesan almarhum sang ibu.

Inovasi Formula Fermentasi dan Peluncuran Produk

Inna memutuskan untuk merintis kembali bisnis tersebut pada akhir 2019 dengan membawa produk ke level yang lebih tinggi.

Ia menghadirkan inovasi fermentasi yang terinspirasi dari kegiatan almarhum ayahnya.

Sang ayah yang merupakan lulusan teknik kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) semasa hidup kerap mengukur kadar keasaman asinan di laboratorium.

Sementara Inna sendiri memiliki latar belakang pendidikan sekolah asisten apoteker.

"Kita ulik nih komposisi asam-basahnya sampai mendapatkan formula yang dia bisa difermentasi," jelas Inna.

Hidangan ini terdiri dari potongan bengkoang, mentimun, kol, dan sawi asin yang dipadukan dengan bumbu kacang. Proses fermentasi alami ini menghasilkan bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan pencernaan.