Volkswagen Kritik Kebijakan Larangan Mobil Bensin di Berbagai Negara
Produsen otomotif Jerman, Volkswagen (VW), melontarkan kritik terhadap kampanye global mobil listrik yang dinilai keliru karena mematikan pasar kendaraan konvensional secara paksa.
Kritik ini menyasar kebijakan sejumlah negara yang menetapkan tenggat waktu pelarangan total penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).
>>> Manchester United Kesulitan Jual Andre Onana karena Gaji Tinggi
Britania Raya misalnya, akan memberlakukan larangan total pada 2030, disusul Jepang pada 2035, dan Singapura pada 2040.
Kebebasan Konsumen Diutamakan
Manajemen VW mempertanyakan urgensi penghapusan mobil konvensional demi mendongkrak popularitas kendaraan listrik.
Menurut mereka, konsumen seharusnya diberikan kebebasan penuh untuk memilih teknologi kendaraan yang diinginkan tanpa paksaan regulasi.
"Inilah mengapa saya membenci diskusi tentang larangan mobil ICE di masa depan," ujar Martin Sander, Dewan Direksi Pemasaran dan Purna Jual VW, dikutip dari Carscoops.
Ia menilai narasi pelarangan justru menghambat edukasi konsumen mengenai keunggulan teknologi baru.
"Semua orang hanya berbicara tentang larangan ICE.
>>> Studi Sun Life: 80% Masyarakat Tertekan Biaya Hidup, Ketahanan Finansial Belum Merata
Bagaimana Anda meyakinkan pelanggan tentang teknologi baru jika Anda hanya berbicara tentang 'kapan mobil bensin tak boleh lagi dijual'?"
tambahnya.
Menurut Sander, transisi ke era elektrifikasi bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung, bukan regulasi pelarangan.
Infrastruktur pengisian daya yang memadai akan meningkatkan kepercayaan diri konsumen untuk beralih dari mobil bensin.
"Mari kita bicarakan apa yang perlu kita lakukan untuk meyakinkan pelanggan: infrastruktur pengisian daya, bicarakan secara positif tentang keunggulan kendaraan listrik, dan mungkin lakukan sesuatu terkait harga energi," ungkapnya.
Meski mengkritik kebijakan pelarangan, VW tidak menampik adanya pergeseran tren global.
>>> Menteri Keuangan Respons Ajakan Boikot Pertamax ke Pertalite di Medsos
Sander memprediksi penjualan mobil bensin hanya akan tersisa tiga, empat, atau lima persen pada 2035.
Update Terbaru
ANKER Soundcore Luncurkan Liberty 5 Pro Series dengan Thus AI Chip untuk Produktivitas Kerja
Kamis / 11-06-2026, 21:53 WIB
Volvo XC40 Kembali Diperbarui, Facelift Kedua Dijelang 2027
Kamis / 11-06-2026, 21:53 WIB
Harga Mobil Baru Turun di Mei, Tapi Pembeli Mewah Bayar Rp140 Juta Lebih
Kamis / 11-06-2026, 21:53 WIB
Fitur Keamanan Claude Fable 5 Picu Protes, Anthropic Minta Maaf
Kamis / 11-06-2026, 21:53 WIB
Menteri ESDM Bantah Kelangkaan Batubara Picu Pemadaman Listrik
Kamis / 11-06-2026, 21:52 WIB
Asperindo Buka Peluang Kenaikan Tarif Pengiriman Imbas Lonjakan Pertamax
Kamis / 11-06-2026, 21:52 WIB
Tujuh Emiten BEI Sepakati Pembagian Dividen Tunai Miliaran Rupiah
Kamis / 11-06-2026, 21:52 WIB
XLSmart for Business Siap Jadi Mitra Integrator Ekosistem Digital Perusahaan
Kamis / 11-06-2026, 21:49 WIB
XLSmart Luncurkan Solusi AI untuk Efisiensi Energi dan Keselamatan Kerja
Kamis / 11-06-2026, 21:49 WIB
FIFA Terapkan AI untuk Jamin Keadilan di Piala Dunia 2026
Kamis / 11-06-2026, 21:49 WIB
Manchester United Bidik Karl Darlow untuk Perkuat Sektor Kiper
Kamis / 11-06-2026, 21:48 WIB
Memetik Hikmah Hijrah untuk Kebangkitan Umat Islam
Kamis / 11-06-2026, 21:48 WIB
Nike Gencarkan Strategi Global Demi Rebut Kembali Pasar Sepak Bola
Kamis / 11-06-2026, 21:48 WIB
Laba Asuransi Umum Kuartal I/2026 Tembus Rp3,72 Triliun
Kamis / 11-06-2026, 21:48 WIB






