Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui adanya potensi perpindahan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite.

Hal ini menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi RON 92 sebesar 32 persen menjadi Rp16.250 per liter.

>>> DPR dan Pemerintah Sepakati Target Pertumbuhan Ekonomi 2027

Pemerintah menyiapkan strategi mitigasi untuk memastikan penyaluran subsidi energi tetap tepat sasaran. PT Pertamina Patra Niaga kini mengandalkan sistem MyPertamina yang mewajibkan penggunaan QR-code untuk pembelian BBM bersubsidi.

Pengawasan Diperketat

Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan bahwa penindakan tegas akan dilakukan terhadap oknum yang menyalahgunakan BBM bersubsidi.

"Antisipasi, mitigasi pasti dilakukan.

Misalnya, saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya, walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini.

Namun, Menteri ESDM sudah meminta untuk Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah," kata Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026).

Anggia menambahkan bahwa data konsumsi Pertalite belum memperlihatkan lonjakan masif dalam dua hari terakhir sejak harga Pertamax disesuaikan.

"Tadi kami sudah berdiskusi dengan Dirut Pertamina Patra Niaga. Dalam dua hari ini apakah sudah ada pergeseran?

Alhamdulillah tidak terlalu besar shifting-nya, mungkin dari Pertama Turbo ya, di atas Pertamax saat ini," ujar dia.

Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dan mengutamakan bensin bersubsidi hanya bagi kalangan yang berhak.

Dampak pada Kelas Menengah

Center of Economic and Law Studies (Celios) memproyeksikan kenaikan harga Pertamax akan memberi tekanan ekonomi signifikan pada kelompok masyarakat kelas menengah rentan.

Direktur Kebijakan Publik Celios Media Wahyudi Askar menilai situasi ini memaksa konsumen memilih antara membayar lebih mahal atau beralih ke Pertalite seharga Rp10.000 per liter.