Indodax, platform pertukaran aset kripto di Indonesia, menjalin kerja sama dengan perusahaan analisis blockchain Chainalysis.

Langkah ini diumumkan di Jakarta pada Kamis (11/6/2026) sebagai upaya memperkuat sistem keamanan transaksi.

>>> Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penerapan solusi Crypto Compliance. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi dan memitigasi potensi risiko transaksi blockchain secara real-time.

CEO Indodax, William Sutanto, menekankan pentingnya infrastruktur kepatuhan dalam membangun industri kripto yang sehat.

"Kepercayaan pengguna hanya dapat dijaga melalui transparansi, tata kelola yang baik, serta sistem pengawasan yang kuat," ujarnya.

Langkah ini sejalan dengan pertumbuhan pesat pasar kripto di Indonesia.

>>> PT KMI Luncurkan Modenas Brusky 125 dan KLX150 XPL di Jakarta Fair 2026

Berdasarkan Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam adopsi aset kripto dan menjadi pasar terbesar keempat di Asia dengan pertumbuhan tahunan 103 persen.

Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Buatan

Regional Director ASEAN Chainalysis, Diederik Van Wersch, menyebut Indonesia sebagai salah satu pasar kripto dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.

Menurutnya, peningkatan aktivitas transaksi perlu diimbangi dengan sistem kepatuhan yang canggih.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dan analisis data blockchain memungkinkan identifikasi aktivitas berisiko secara real-time. Hal ini memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan tepat terhadap indikasi transaksi mencurigakan.

>>> Timnas Meksiko Targetkan Rekor Baru di Piala Dunia 2026

Penerapan standar pengawasan mutakhir ini juga menjadi upaya industri kripto domestik untuk menyelaraskan diri dengan regulasi global yang semakin ketat.