Pasar chipset smartphone global mengalami tekanan besar pada kuartal pertama tahun 2026.

Laporan Counterpoint Research yang dirilis April 2026 menunjukkan pengiriman SoC di seluruh dunia menyusut 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

>>> General Sale BTS Jakarta Dibuka, 580 Ribu Orang Antre Tiket Hari Kedua

Kondisi lesu ini turut menyeret performa dua raksasa industri, MediaTek dan Qualcomm. Kedua perusahaan tersebut membukukan penurunan volume pengiriman hingga dua digit.

Counterpoint Research mengidentifikasi kelangkaan pasokan memori yang terus berlanjut sebagai pemicu utama kemerosotan ini.

Keterbatasan stok DRAM dan NAND memaksa vendor chipset mengubah strategi produk, menggeser jadwal peluncuran, serta menata ulang alokasi investasi teknologi baru.

Meski pasar secara umum tertekan, segmen smartphone premium memperlihatkan daya tahan yang lebih solid.

Produsen ponsel kelas atas relatif mampu membebankan kenaikan biaya komponen kepada pembeli, berbeda dengan segmen entry-level dan menengah yang sangat sensitif terhadap gejolak harga.

MediaTek menjadi salah satu produsen yang merasakan dampak paling signifikan.

Tekanan berat ini bersumber dari melambatnya permintaan di pasar ponsel kelas bawah yang selama ini menjadi penopang utama bisnis mereka.

Lonjakan biaya produksi membuat sejumlah vendor smartphone mulai mencari alternatif chipset yang lebih murah demi menjaga harga perangkat tetap kompetitif.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shivani Parashar, memaparkan tantangan lain yang dihadapi MediaTek. "MediaTek juga menghadapi tantangan dari pertumbuhan yang lebih lambat pada segmen menengah dan premium," katanya.

Selain faktor pasar, hambatan internal berupa penundaan peluncuran prosesor Dimensity 9500+ turut mengoreksi performa pengiriman perusahaan sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Di sisi lain, Qualcomm juga tidak luput dari penurunan pengiriman dua digit.