PT Pertamina (Persero) menginstruksikan penguatan sinergi antar-subholding dan unit bisnis guna menjaga ketahanan energi nasional di Pulau Jawa yang memiliki tingkat konsumsi tertinggi.

Langkah strategis ini ditegaskan dalam peninjauan langsung ke sejumlah fasilitas operasi hulu dan hilir di wilayah Jawa Barat pada Jumat, 5 Juni 2026.

>>> IHSG Anjlok ke Level 5.789 pada Sesi I, Sempat Tembus 6.000

Kunjungan kerja manajemen tersebut mencakup Early Production Facilities (EPF) Struktur Akasia Prima di Lapangan Jatibarang yang dikelola PT Pertamina EP.

Selain itu, peninjauan juga dilakukan di Onshore Processing Facility (OPF) Balongan milik PHE ONWJ serta Kilang Balongan yang dioperasikan oleh Pertamina Patra Niaga.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza menekankan bahwa seluruh unit bisnis harus mengadopsi semangat terintegrasi untuk mengatasi setiap kendala di lapangan.

“Pertamina adalah satu kesatuan. Kalau ada masalah, kita selesaikan bersama-sama.

Kita cari solusinya bersama dengan semangat One Pertamina,” kata Oki Muraza.

Penyelarasan kerja dari sektor hulu sampai hilir dinilai krusial mengingat besarnya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan gas bumi di area tersebut.

Sinergi ini ditargetkan mampu mengamankan pasokan bagi sektor domestik maupun industri.

“Klaster Jawa memiliki kebutuhan energi yang sangat besar.

>>> Vi 5G Resmi Hadir di Coimbatore, Tiruppur, dan Vellore

Karena itu, seluruh lini harus bersinergi, mulai dari hulu hingga hilir, baik dalam memenuhi kebutuhan minyak maupun gas bumi,” ujar Oki Muraza.

Kilang Balongan saat ini menjadi fasilitas dengan kompleksitas tertinggi milik perusahaan yang mengolah 150 ribu barel minyak per hari untuk menyuplai area Jawa Bagian Barat.

Sementara itu, Lapangan Jatibarang di Indramayu, Cirebon, dan Majalengka terus dikembangkan lewat Struktur Akasia Prima, didukung oleh OPF Balongan yang mengolah gas lepas pantai berkapasitas 40 juta kaki standar per hari (MMSCFD).