>>> Cara Mengaktifkan Kembali Kepesertaan BPJS Kesehatan PBI JK

"Ketika memasuki dunia kerja nyata, benturan antara ekspektasi orang lain dan realitas diri akan memicu krisis eksistensial yang mendalam," kata Danti.

Situasi ini bisa berkembang menjadi quarter-life crisis yang lebih intens jika seseorang terus memaksakan diri menjalani pilihan yang tidak sesuai.

Namun, bekerja di luar bidang studi tidak selalu berdampak buruk. Semua tergantung pada cara individu memaknai pengalaman kerja tersebut.

Orang dengan growth mindset cenderung melihat pergeseran bidang profesi sebagai media untuk menambah keahlian baru.

Kepuasan kerja tetap bisa diraih jika profesi saat ini sejalan dengan nilai personal yang diyakini.

"Mereka melihat ketidaksesuaian ini sebagai peluang untuk memperluas portofolio keterampilan, bukan sebagai kegagalan akademis," ujar Danti.

Sebaliknya, persoalan serius muncul jika seseorang mengalami cognitive dissonance dalam pekerjaannya.

"Ada benturan batin terus-menerus antara siapa saya seharusnya berdasarkan investasi waktu dan biaya kuliah dengan apa yang saya lakukan sekarang," kata dia.

Jika terjadi dalam jangka panjang, tekanan batin tersebut berisiko memicu stres berkepanjangan, kejenuhan akut, hingga burnout.

Ubah Paradigma Karier

Untuk meminimalkan perasaan gagal, lulusan baru disarankan menggeser paradigma mengenai konsep kesuksesan karier. Keberhasilan tidak melulu diukur dari seberapa tegak lurus pekerjaan dengan ijazah kelulusan.

"Lepaskan mitos bahwa karier harus berupa garis lurus yang searah dengan ijazah," ujar Danti.

>>> Promotor Buka Penjualan Umum Tiket Konser BTS di Jakarta Hari Ini

Ia menyarankan generasi muda menerapkan skema protean career, yaitu model karier fleksibel yang dikendalikan penuh oleh diri sendiri dan diukur dari kapasitas belajar serta beradaptasi.