Dalam perspektif etika politik Islam, kepemimpinan merupakan tanggung jawab besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan akhirat.

Kekuasaan tidak dipandang sekadar jabatan formal atau alat untuk meraih kekuasaan semata.

>>> YLKI Soroti Kenaikan Harga Pertamax, Konsumen Beralih ke Pertalite

Tugas manusia sebagai pemimpin di muka bumi telah ditegaskan sejak awal penciptaan.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 30 yang menyebutkan bahwa Allah hendak menjadikan khalifah di bumi.

Menjadi khalifah berarti memikul tanggung jawab menjaga kemaslahatan alam semesta dan mengatur urusan manusia sesuai syariat-Nya.

Amanah ini sangat berat hingga langit, bumi, dan gunung-gunung enggan memikulnya karena khawatir akan pengkhianatan, sebagaimana firman Allah dalam QS.

Al-Ahzāb ayat 72.

Amanah dan Keadilan sebagai Nilai Moral Tertinggi

Amanah dan keadilan menjadi nilai moral tertinggi dalam etika politik Islam.

Seorang pemimpin dituntut untuk menyampaikan hak kepada yang berhak serta menetapkan hukum dengan adil tanpa memandang status sosial atau golongan.

Prinsip tersebut termaktub dalam QS. An-Nisā’ ayat 58 yang memerintahkan untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak dan menetapkan hukum dengan adil.

>>> Kate Middleton Rutin Konsumsi Pepaya untuk Jaga Kebugaran Tubuh

Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sistem politik Islam menolak prinsip yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Politik dipandang sebagai bagian dari ibadah yang harus didasari niat tulus karena Allah SWT.

Pemimpin yang bermoral wajib menjunjung tinggi sifat-sifat kenabian, yaitu Shiddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (transparan), dan Fathonah (cerdas/bijaksana).

Penerapan Syura dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

Kepemimpinan ideal dalam Islam mengedepankan Syura atau musyawarah, bukan sikap otoriter. Rasulullah SAW tetap bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam mengambil keputusan, sesuai perintah Allah dalam QS.

Ali Imran ayat 159.

Setiap individu pada hakikatnya adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Pemimpin sejati dalam Islam menempatkan diri sebagai pelayan bagi rakyatnya, bukan penguasa yang haus kehormatan.

>>> Andrew Andika dan Violentina Kaif Umumkan Kehamilan Anak Kedua

Apabila amanah kepemimpinan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka hal tersebut akan menjadi awal dari kehancuran.