"Analisis sensitivitas kami menunjukkan bahwa setiap kenaikan margin kilang sebesar US$1 per barel berpotensi meningkatkan EBITDA perseroan sekitar US$87 juta hingga US$110 juta dengan asumsi faktor lain tetap," ujar Timothy.

Revisi target ini otomatis mendorong UBS untuk mengatrol proyeksi EBITDA dan EPS Grup Barito untuk tahun buku 2026 masing-masing sebesar 17 persen dan 46 persen.

Langkah ini diambil di tengah koreksi harga saham BRPT yang sudah merosot sekitar 55 persen sejak awal tahun secara year-to-date.

Perubahan ini juga didasari oleh perkiraan bahwa normalisasi margin kilang minyak pasca-meredanya konflik Amerika Serikat dan Iran akan berjalan perlahan akibat hambatan pasokan yang membutuhkan waktu urai cukup lama.

"Skenario dasar kami mengasumsikan margin kilang akan kembali normal pada semester II-2026," ungkap Timothy.

Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan menjaga harga energi dan margin kilang tetap berada di level tinggi.

>>> PT Esa Medika Mandiri Perkuat Jaringan Distribusi dan Manufaktur Alat Kesehatan

Di sisi lain, muncul risiko gangguan jalur pasokan minyak mentah yang berpotensi meningkatkan tingkat kesulitan perseroan dalam memperoleh bahan baku atau feedstock.