Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax tidak otomatis menjadi dorongan besar bagi penjualan kendaraan listrik murni (EV) di Indonesia.

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai dampaknya hanya marginal dan terbatas pada segmen tertentu.

>>> Goenawan Mohamad Gelar Pameran Tunggal Seni Grafis di Salihara

"Potensinya ada, tetapi bersifat marginal dan terbatas pada segmen tertentu saja. Kenaikan Pertamax bisa menjadi dorongan tambahan bagi konsumen middle upper class yang sudah mempertimbangkan EV.

Tetapi, keputusan beralih tidak ditentukan oleh harga BBM semata," ujar Yannes, Rabu (10/6/2026).

Hambatan Struktural Adopsi EV

Menurut Yannes, mayoritas konsumen belum siap beralih ke battery electric vehicle (BEV) karena beberapa hambatan struktural.

"Hambatan utama tetap harga beli yang lebih tinggi, kekhawatiran nilai jual kembali, dan keterbatasan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum)," tambahnya.

Di sisi lain, segmen low cost green car (LCGC) tidak terpengaruh karena menggunakan Pertalite yang harganya stabil.

"Pengaruhnya ada, tetapi proporsional dan terbatas. Kenaikan ini hanya menyentuh pengguna Pertamax, sementara pasar massal LCGC tetap stabil.

Tekanan utama sales saat ini lebih disebabkan pelemahan daya beli secara keseluruhan," ungkap Yannes.

>>> Bank Mandiri Salurkan KUR Juni 2026: Simak Tabel Angsuran dan Syaratnya

Hybrid Jadi Pilihan Transisi

Yannes memproyeksikan kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan Range Extended Electric Vehicle (REEV) akan mendominasi transisi otomotif nasional.

Teknologi hybrid dinilai sebagai solusi paling instan karena menawarkan efisiensi bahan bakar tanpa memerlukan infrastruktur pengisian daya.

"Di sini, hybrid justru berpotensi paling diuntungkan karena menawarkan penghematan BBM tanpa memerlukan infrastruktur charging dan tanpa premi harga setinggi BEV," pungkas Yannes.

Situasi ini diprediksi membuat produsen otomotif Jepang di Indonesia memilih strategi bermain aman dengan memperluas varian hybrid untuk segmen menengah ke bawah.

Sebelumnya, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan wholesales 2025 sebanyak 803.687 unit, turun 7,2% year-on-year.

Retail sales juga turun 6,3% menjadi 803.687 unit.

>>> JisuLife Luncurkan Tiga Kipas Genggam Premium: Ultra 2, Pro1S, dan Pro1 Mini

Penjualan LCGC 2025 tercatat 122.688 unit, turun 30,6% dibanding 2024. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan penjualan nasional 850.000 unit pada 2026.