Perusahaan induk merek Infinix, Tecno, dan itel ini menunjukkan performa kuat di pasar berkembang seperti Afrika dan Asia.

Oppo menempati peringkat kelima dengan total produksi sekitar 27 juta unit, mencakup kontribusi dari ekosistem OnePlus dan Realme.

Sementara itu, Vivo berada di posisi keenam dengan volume produksi mencapai 24 juta unit.

Strategi Efisiensi dan Fitur AI

Dinamika industri saat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan vendor dalam mengelola rantai pasok.

Produsen dituntut responsif terhadap perubahan pasar di saat konsumen cenderung menahan siklus penggantian perangkat.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini diintegrasikan sebagai nilai jual utama pada segmen premium.

Namun, inovasi fitur AI dinilai belum cukup kuat untuk memicu lonjakan permintaan pasar secara masif dalam waktu dekat.

Ketegangan perdagangan di beberapa kawasan memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya produksi dan distribusi.

Situasi ini mendorong sejumlah produsen melakukan diversifikasi lokasi manufaktur demi menekan risiko operasional.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan makro, industri ponsel pintar dinilai memiliki ketahanan lebih baik dibanding sektor elektronik konsumen lainnya.

Permintaan perangkat premium tetap terjaga, sementara kelas menengah menjadi kontributor volume terbesar.

TrendForce memproyeksikan para vendor akan terus menyelaraskan strategi produksi sepanjang tahun 2026.

>>> Edifier Luncurkan FitBuds Turbo: TWS Premium dengan Harga Terjangkau

Fokus utama industri akan tertuju pada efisiensi rantai pasok, pengembangan teknologi AI, dan penetrasi ke pasar berkembang.