PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mengantisipasi potensi penurunan pendapatan pada segmen line maintenance akibat lonjakan harga avtur.

Kenaikan biaya bahan bakar pesawat dinilai berpotensi menurunkan frekuensi penerbangan maskapai.

>>> OJK Catat Realisasi Buyback Saham Emiten Capai Rp17,12 Triliun

Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menyatakan bahwa penurunan frekuensi penerbangan akan berdampak langsung pada pendapatan line maintenance.

Oleh karena itu, perseroan mengalihkan fokus utama ke segmen perawatan berat atau heavy maintenance.

Fokus pada Heavy Maintenance dan Sektor Pertahanan

Segmen heavy maintenance mencakup pemeliharaan airframe, komponen, dan mesin.

Lini bisnis ini dinilai lebih aman dari fluktuasi harga avtur jangka pendek karena pemesanan tempat sudah terjadwal oleh konsumen sejak jauh hari.

Andi Fahrurrozi menjelaskan bahwa kontrak perawatan berat sudah diperkirakan pelanggan satu hingga dua tahun sebelumnya. Dengan demikian, kontrak untuk airframe, komponen, dan engine maintenance tetap berjalan.

>>> Prabowo Soroti Bunga Kredit Super Mikro 24%, Minta Turun di Bawah 9%

Selain memperkuat sektor perawatan berat, GMFI melihat peluang ekspansi di sektor pemerintahan dan pertahanan. Ketidakpastian geopolitik global mendorong peningkatan kebutuhan perawatan dan kesiapan armada militer.

Menurut Andi, situasi geopolitik saat ini meningkatkan kebutuhan persiapan pesawat di industri pertahanan. Hal ini menjadi peluang bagi GMFI untuk mengembangkan bisnis government dan defense MRO.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, GMFI mencatatkan pendapatan sebesar US$491,9 juta atau sekitar Rp8,25 triliun.

Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 16,8%.

>>> Kenaikan Suku Bunga dan Harga Pertamax Tekan Daya Beli Kelas Menengah

Laba bersih perusahaan juga mengalami kenaikan 26,3% dari US$26,9 juta pada 2024 menjadi US$3,9 juta atau setara Rp570 miliar pada akhir 2025.