Toshihiro Mibe, CEO Honda sejak 2021, menolak permintaan mundur dari sejumlah mantan eksekutif perusahaan. Mereka menilai Mibe gagal mengelola transisi ke kendaraan listrik dan mengabaikan pasar China.

Reuters melaporkan bahwa sejak akhir 2025, beberapa pensiunan eksekutif Honda mengadakan pertemuan untuk membahas masalah perusahaan. Mereka menyalahkan Mibe atas kerugian besar akibat investasi EV yang berlebihan.

>>> Hongqi G919: SUV Off-Road China dengan Tiga Diff Lock dan Tenaga 831 HP

Honda baru saja mencatat kerugian tahunan pertama dalam 70 tahun.

Perusahaan juga membatalkan tiga model EV yang direncanakan untuk Amerika Utara dan membukukan biaya sekitar Rp 250 triliun.

Kritik dari Mantan Petinggi

Para mantan eksekutif menuduh Mibe tidak fokus pada "genba" atau tempat kerja nyata seperti pabrik dan ruang pamer.

Mereka juga menyebut Mibe lebih peduli pada sponsor golf daripada bisnis.

Pada April, mantan CEO Honda berusia 90 tahun, Nobuhiko Kawamoto, mendatangi kantor pusat dan meminta Mibe mundur. Mibe menjawab tegas bahwa itu tidak akan terjadi.

>>> AS Masukkan BYD dan Perusahaan China ke Daftar Hitam Militer

Mibe mengambil pemotongan gaji 30 persen selama tiga bulan sebagai tanggung jawab atas kerugian perusahaan.

Namun, ia tetap mendapat dukungan dari komite nominasi dewan direksi yang kini lebih banyak diisi direktur independen.

Strategi Baru Honda

Setelah pembatalan EV, Honda mengubah strategi. Perusahaan mengembangkan platform generasi baru yang mendukung powertrain hybrid dan listrik.

Honda berencana meluncurkan 15 model hybrid baru pada 2029. Dua di antaranya baru saja diperkenalkan: Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype.

Perusahaan juga mengakui bahwa pasar EV AS bisa berubah drastis setelah masa jabatan kedua Trump berakhir pada Januari 2029.

>>> Kenaikan Pertamax Green 95 Menguras Kantong Pemilik Vespa Modern

Hasil pemilu paruh waktu November juga akan berdampak besar.