Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan net interest margin (NIM) dan profitabilitas bank.

>>> Bacaan Doa Qunut Subuh Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Emiten seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI dinilai memiliki kemampuan lebih baik dalam mempertahankan kinerja dibandingkan bank berukuran kecil.

Namun, ia mengingatkan apabila suku bunga tinggi berlangsung terlalu lama atau memasuki fase higher for longer, dampaknya bisa berubah menjadi negatif karena pertumbuhan kredit berpotensi melambat dan risiko kredit bermasalah (NPL) meningkat.

Sementara itu, Andrey menilai kendati persaingan dana pihak ketiga dapat menekan biaya dana, industri perbankan masih didukung oleh pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang terjaga, serta likuiditas yang memadai.

Bank-bank dengan basis dana murah (CASA) yang kuat seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, dan BRIS diperkirakan mampu menjaga profitabilitas lebih baik dibanding sektor lainnya.

RHB Sekuritas masih menjadikan sektor perbankan sebagai pilihan utama.

Oleh karena itu, dia masih merekomendasikan saham BMRI dengan target harga Rp5.920, BBRI dengan target harga Rp4.000, BRIS dengan target harga Rp2.800, dan BBTN dengan target harga Rp1.630.

Menurutnya, koreksi harga saham perbankan belakangan ini lebih banyak dipengaruhi sentimen makro dan pelemahan rupiah dibandingkan penurunan fundamental, sehingga membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah.

Investor Disarankan Beralih ke Saham Defensif

Di tengah ketidakpastian global, pelemahan rupiah, dan kenaikan BI Rate, baik Phintraco Sekuritas maupun RHB Sekuritas menyarankan investor lebih selektif dalam memilih saham.

Fokus utama diarahkan pada saham berfundamental kuat, likuiditas tinggi, dan sektor yang permintaannya stabil dan lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi.

Andrey menyebut selain saham perbankan, investor juga dapat menambah eksposur pada sektor defensif seperti kesehatan dan consumer staples, sambil memanfaatkan volatilitas pasar untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas secara bertahap.

Sementara itu, Alrich menyebut sejumlah saham yang cenderung menjadi favorit pasar dalam kondisi saat ini adalah TLKM, ISAT, EXCL, INDF, ICBP, dan UNVR.

"Strategi yang lebih tepat adalah fokus pada saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi, perbanyak porsi sektor defensif dan perbankan besar, lakukan akumulasi bertahap, bukan sekaligus," ujar Alrich.

Analis juga menyebut akan lebih ideal jika investor menunggu stabilitas nilai tukar rupiah, kepastian kebijakan, serta kepastian arus dana asing.

>>> Bartomeu Buka Suara soal Alokasi Dana Penjualan Neymar

Pasalnya, selama faktor-faktor tersebut belum membaik, volatilitas kemungkinan masih akan tinggi.