Mantan Presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu akhirnya buka suara mengenai alokasi dana sebesar 222 juta euro hasil penjualan Neymar ke Paris Saint-Germain pada 2017.

Uang klausul pelepasan Neymar yang memecahkan rekor transfer dunia itu digunakan untuk mendatangkan Ousmane Dembele dari Borussia Dortmund dan Philippe Coutinho dari Liverpool.

>>> Manchester United Rilis Jadwal Pramusim 2026, Hadapi Atletico hingga PSG

Bartomeu mengatakan keputusan membelanjakan dana besar tersebut dipicu oleh inflasi pasar transfer akibat aktivitas klub-klub kaya.

"Pasar transfer terjadi inflasi yang disebabkan oleh klub-klub Premier League dan klub-klub milik negara seperti PSG dan Manchester City," kata Bartomeu.

Pria yang mundur dari jabatannya pada 2020 itu menambahkan bahwa kekuatan finansial tim pesaing sempat mengancam stabilitas internal skuad Barcelona yang saat itu berstatus sebagai tim terbaik.

"Kami memiliki tim terbaik di dunia, dan para pemain kami terus-menerus menerima tawaran. Tim-tim lain ingin membubarkan skuad Barca," ujarnya.

Kepanikan manajemen Barcelona semakin meningkat setelah mengetahui adanya ancaman kehilangan pemain pilar lainnya dengan nilai klausul pelepasan yang jauh lebih fantastis.

"Sewaktu klausul pelepasan Neymar dibayarkan, kami mengalami momen yang sulit, terutama ketika, beberapa hari kemudian, kami mengetahui bahwa tim lain bersedia membayar klausul Lionel Messi sebesar 400 juta euro," ungkap Bartomeu.

Manajemen kemudian bergerak cepat mengikuti rekomendasi staf kepelatihan untuk merekrut Dembele dengan nilai transfer total mencapai 140 juta euro.

"Staf pelatih meminta Dembele kepada kami. 105 juta euro ditambah 30-35 juta euro dalam bonus masih terjangkau karena dia masih sangat muda.

>>> Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.940 per Dolar AS, Didorong Sentimen Positif