Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,50% berpotensi menjadi sentimen baru bagi pasar saham.

Sektor properti dan otomotif diperkirakan menjadi yang paling rentan terhadap kenaikan biaya pembiayaan.

>>> Bank Indonesia Luncurkan Kebijakan Baru Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Saham-saham perbankan besar dan sektor defensif dinilai masih mampu bertahan di tengah tekanan.

Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis mengatakan sektor properti menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

Mayoritas pembelian rumah masih mengandalkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Ketika bunga naik, cicilan KPR menjadi lebih mahal sehingga daya beli konsumen menurun dan keputusan pembelian rumah cenderung ditunda.

Akibatnya marketing sales berpotensi melambat," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (10/6/2026).

Menurut dia, emiten properti seperti BSDE, CTRA, PWON, SMRA, dan ASRI berpotensi menghadapi perlambatan penjualan apabila tren suku bunga tinggi bertahan dalam jangka waktu lama.

Tekanan serupa diperkirakan terjadi pada sektor otomotif karena pembelian kendaraan bermotor juga sangat bergantung pada pembiayaan kredit.

Kenaikan bunga berpotensi mengurangi minat masyarakat membeli kendaraan baru dan menekan pertumbuhan penjualan.

Senada, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai sektor properti, otomotif, dan consumer discretionary menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kenaikan BI Rate.

"Kenaikan bunga akan meningkatkan biaya pembiayaan bagi konsumen sehingga dapat menunda keputusan pembelian rumah, kendaraan maupun barang konsumsi non primer," katanya.

Dua Sisi bagi Perbankan

Di tengah tekanan tersebut, sektor perbankan justru dinilai relatif lebih tangguh.

Alrich menjelaskan bahwa dalam periode suku bunga tinggi yang berlangsung singkat, bank-bank besar berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan yield kredit yang lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya dana (cost of fund).