BI Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS pada 2027
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah akan mengalami tren penguatan ke kisaran rerata Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada tahun 2027.
Proyeksi ini disampaikan di tengah pelemahan mata uang domestik yang terjadi sepanjang tahun berjalan.
>>> GMFI Rencanakan Pembagian Dividen Melalui Kuasi Reorganisasi
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate BI menunjukkan rupiah berada di level Rp18.141 per dolar AS pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 8,47 persen dibandingkan posisi awal tahun.
Lima Landasan Penguatan Rupiah
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan optimisme terhadap apresiasi rupiah yang selaras dengan target pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027.
Otoritas moneter menetapkan lima landasan utama yang menjadi dasar keyakinan terhadap penguatan nilai tukar ke depan.
Faktor pertama adalah perkiraan meredanya ketidakpastian global yang diikuti pertumbuhan ekonomi dunia lebih tinggi.
Perbaikan persepsi risiko investasi diharapkan mendorong kembali arus modal masuk ke negara berkembang seperti Indonesia.
"Gejolak global sulit diprediksi tapi setidaknya tidak akan seburuk tahun ini," kata Perry dalam rapat pengantar pembahasan KEM-PPKF 2027 dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Faktor kedua didukung oleh fundamental domestik yang membaik melalui pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan inflasi terkendali.
>>> Amazfit Cheetah 2 Pro dan Cheetah 2 Ultra Resmi di India, Ini Spesifikasinya
Kondisi ini ditopang neraca pembayaran yang sehat dengan defisit transaksi berjalan tetap rendah.
"Demikian juga imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik, pasar keuangan yang berkembang, serta dukungan kecukupan cadangan devisa," jelas Perry.
Landasan ketiga dipengaruhi kebijakan ekspor sumber daya alam, termasuk pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai sistem satu pintu serta penerapan regulasi Devisa Hasil Ekspor yang baru.
Update Terbaru
Morgan Stanley: Penerbitan Utang AI Global Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:08 WIB
Kementerian PU Targetkan Regulasi Baru SPM Jalan Tol Rampung 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
Stok Poco F8 Ultra Kembali Tersedia di Seluruh Kanal Resmi
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
IP Expo Indonesia 2026 Tumbuh 40 Persen, Perkuat Ekosistem Kekayaan Intelektual
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
Harga Minyak WTI Turun ke US$ 88,13 Akibat Meredanya Ketegangan Timur Tengah
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
Niat dan Keutamaan Puasa Tasua serta Asyura 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:04 WIB
YLKI Desak Transparansi Formula Perhitungan Harga Pertamax
Rabu / 10-06-2026, 16:04 WIB
Restoran di India Wajib Ganti Rugi dan Beri 10 Porsi Biryani Gratis Akibat Lalat dalam Makanan
Rabu / 10-06-2026, 16:00 WIB
Kenaikan BI Rate ke 5,50% Berpotensi Jadi Sentimen Baru Pasar Saham
Rabu / 10-06-2026, 16:00 WIB
Bank Indonesia Luncurkan Kebijakan Baru Stabilkan Nilai Tukar Rupiah
Rabu / 10-06-2026, 16:00 WIB
Veda Ega Pratama Finis Keempat di Moto3 GP Prancis 2026
Rabu / 10-06-2026, 15:56 WIB
Bacaan Doa Qunut Subuh Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Rabu / 10-06-2026, 15:55 WIB
Bartomeu Buka Suara soal Alokasi Dana Penjualan Neymar
Rabu / 10-06-2026, 15:55 WIB
Manchester United Rilis Jadwal Pramusim 2026, Hadapi Atletico hingga PSG
Rabu / 10-06-2026, 15:53 WIB






