Di samping itu kita menghadapi kenaikan di dua front sekaligus, yaitu kenaikan crude dan kenaikan dolar," tambah Hadi.

Ia menekankan bahwa kondisi ruang fiskal yang sangat sempit saat ini membuat pemerintah seolah sudah tidak lagi kuat untuk bertahan hingga akhir tahun.

Potensi Migrasi ke Pertalite

Di sisi lain, lonjakan harga Pertamax ke level Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp 17.000 per liter memicu kekhawatiran akan terjadinya migrasi konsumsi ke BBM penugasan alias Pertalite.

Potensi pergeseran (shifting) massal dari pengguna Pertamax ke Pertalite diprediksi akan terjadi jika tidak dibarengi dengan pengawasan ketat di lapangan.

Hal ini menjadi risiko baru bagi kuota BBM subsidi yang sudah dipatok dalam APBN karena beban volume konsumsi berpotensi membengkak melampaui target semula.

"Boleh jadi akan terjadi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite, jangan lupa bahwa Pertamax adalah BBM Non Subsidi.

Artinya perlu penegakan hukum yang menyeluruh agar jenis mobil pengguna Pertamax tidak melanggar hukum masuk ke antrian Pertalite.

Perlu kerjasama dengan pihak-pihak terkait," tegasnya.

>>> Samsung Siapkan Galaxy S27 dengan Chipset Exynos 2700

Ia berharap pengawasan di setiap SPBU harus ditingkatkan secara menyeluruh agar distribusi BBM subsidi tetap tepat sasaran kepada masyarakat yang memang berhak menerima bantuan.