Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,45 persen pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.

Berdasarkan data RTI, indeks bertambah 83,14 poin ke posisi 5.829,79 hingga pukul 09.06 WIB.

>>> Dewi Shri Farmindo Akuisisi Aset 1,5 Hektare di Cikarang untuk Ekspansi Frozen Food

Sebanyak 398 saham tercatat menguat, 142 saham melemah, dan 158 saham stagnan.

Volume transaksi mencapai 3,5 miliar saham dengan nilai perputaran Rp 2,7 triliun.

Sektor Penggerak dan Saham Unggulan

Sembilan indeks sektoral menjadi motor penguatan IHSG. Sektor barang konsumen siklikal memimpin dengan kenaikan 2,58 persen.

Sektor teknologi naik 2,42 persen dan sektor bahan baku menguat 2,02 persen.

Di antara saham likuid, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 9,94 persen ke Rp 1.825.

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 5,28 persen menjadi Rp 1.295, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 4,89 persen ke Rp 3.430.

Sementara itu, saham yang melemah antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) turun 2,90 persen ke Rp 1.840.

>>> Timnas Portugal Target Juara Piala Dunia 2026 Bersama Ronaldo

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terkoreksi 2,20 persen menjadi Rp 1.335, dan PT Astra Internasional Tbk (ASII) turun 1,28 persen ke Rp 4.610.

Tekanan Pasar Asia dan Sentimen Global

Penguatan IHSG kontras dengan mayoritas bursa Asia yang melemah akibat eskalasi keamanan di Timur Tengah.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen, Nikkei 225 melemah 0,9 persen, dan Kospi jatuh 2 persen.

Ketegangan dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait jatuhnya helikopter Apache di Selat Hormuz akibat tembakan Iran.

Balasan militer AS memicu kekhawatiran pasar terhadap perdamaian regional dan mendorong kenaikan harga minyak.

Minyak mentah Brent naik 0,9 persen ke US$ 92,29 per barel, dan WTI menguat 0,8 persen ke US$ 88,97 per barel.

Chief Investment Strategist Saxo Singapore Charu Chanana menilai situasi Timur Tengah masih sebagai risiko jangka pendek.

>>> Real Madrid Rekrut Jose Mourinho dari Benfica dengan Biaya 15 Juta Euro

"Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama," ujarnya.