Banyak kreator konten di YouTube membagikan tips medis maupun non-medis untuk mengatasi morning sickness pada ibu hamil.

Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa mayoritas saran tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

>>> IHSG Melonjak 7,57 Persen di Tengah Aksi Jual Bersih Asing

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Midwifery mengungkapkan adanya risiko dari sebagian rekomendasi tersebut. Para peneliti mengidentifikasi setidaknya 85 saran yang kerap muncul dalam platform video tersebut.

Dari total rekomendasi yang dianalisis, hanya 8 persen yang memiliki dukungan bukti ilmiah yang konsisten.

Sebaliknya, hampir 5 persen dari saran yang beredar justru dinilai berpotensi membahayakan kesehatan ibu hamil.

Metode Penelitian dan Temuan

Tim peneliti melaksanakan evaluasi konten digital induktif terhadap saran morning sickness di YouTube yang dipadukan dengan tinjauan literatur terstruktur.

Langkah ini bertujuan untuk menguji konsistensi serta kekuatan bukti dari informasi daring tersebut.

Analisis dilakukan terhadap 45 video berbahasa Inggris dengan jumlah penayangan tertinggi yang diunggah antara Desember 2022 dan Oktober 2023.

Video yang menyertakan rekomendasi perawatan mandiri menjadi fokus utama dalam penyaringan ini.

Peneliti mengeluarkan video dengan kualitas audio buruk, konten bagi tenaga kesehatan, bahasan hiperemesis gravidarum, serta video tanpa rekomendasi spesifik kehamilan.

Tiga peneliti kemudian meninjau transkrip video secara independen menggunakan metode pengkodean terbuka.

Temuan dikelompokkan berdasarkan alasan medis atau mekanisme biologis yang diusulkan.

Peneliti juga menelusuri basis data literatur ilmiah yang ditinjau sejawat melalui sistem perpustakaan universitas dari Februari hingga Desember 2023.

>>> Memaknai Malam 1 Muharram 2026 dengan Dzikir dan Muhasabah

Efektivitas dan Risiko Bahan Herbal

Saran yang dianalisis mayoritas berasal dari video unggahan Amerika Serikat dan India antara tahun 2018 dan 2020.