Konsep pensiun di berbagai negara kini menghadapi perubahan mendasar akibat melonjaknya angka harapan hidup, pergeseran pola karier, serta tingginya ketidakpastian ekonomi.

Kondisi tersebut memicu perlunya transformasi menyeluruh pada sistem pensiun agar tetap relevan dalam menjawab tantangan masa depan.

>>> Serangan Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Laporan bertajuk Securing Retirement: What Builds a Strong Pension System dari Manulife menguraikan bahwa masa purnabakti bukan lagi fase singkat.

Periode tersebut kini dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun, sehingga memerlukan perencanaan matang guna menjamin ketahanan finansial jangka panjang.

Mayoritas skema pensiun saat ini masih memakai asumsi lama yang kurang relevan, seperti jalur karier linear, pekerjaan stabil, serta usia harapan hidup yang lebih pendek.

Kondisi ini memicu rendahnya tingkat penggantian pendapatan saat pensiun (retirement replacement rate).

Selain itu, kesenjangan kepesertaan masih lebar terutama pada sektor informal, ditambah minimnya panduan bagi individu dalam mengambil keputusan finansial yang rumit.

Lima Pondasi Sistem Pensiun

Menanggapi isu tersebut, Manulife merumuskan lima elemen kunci untuk membangun fondasi sistem pensiun yang kokoh, yaitu kecukupan (adequacy), akses (access), fleksibilitas (flexibility), nasihat (advice), dan akuntabilitas (accountability).

Kelima indikator ini menerapkan pendekatan progresif yang tidak hanya berfokus pada akumulasi aset.

Aspek inklusivitas, perubahan perilaku peserta, serta tingkat kepercayaan publik terhadap sistem juga menjadi poin perhatian utama.

Elvin Tharm, Head of Emerging Markets Asia Retirement Manulife, menjelaskan bahwa ekosistem pensiun di kawasan Asia tengah berada pada titik infleksi yang krusial.

Tingkat penggantian pendapatan di masa tua pada umumnya masih berada di bawah 50% dari penghasilan sebelum pensiun.