Model operasi Searah dirancang secara independen dan terintegrasi untuk menghasilkan sinergi operasional, terutama di sektor logistik dan teknologi.

>>> Kemenag dan Musyrif Diny Susun Panduan Kemabruran Haji untuk Jamaah

Seluruh jajaran kepemimpinan diisi oleh profesional dari kedua perusahaan induk.

Restrukturisasi ini berdampak pada seluruh karyawan Eni Indonesia dan Petronas Indonesia yang kini dialihkan menjadi bagian dari Searah.

Untuk aset di Malaysia, dibentuk entitas khusus bernama Searah Malaysia Sdn Bhd.

Peluncuran Searah mengikuti keputusan investasi final (FID) untuk proyek strategis seperti Lapangan Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub) yang diumumkan Eni pada Maret lalu.

Proyek-proyek tersebut memiliki potensi gas awal sekitar 10 triliun kaki kubik (Tcf) dan 550 juta barel kondensat.

Produksi massal dijadwalkan mulai pada 2028, dengan puncak produksi mencapai 2 miliar kaki kubik gas per hari (bscfd) dan 90.000 barel kondensat per hari (bpd) pada 2029.

Kehadiran Searah juga memperkuat penemuan gas raksasa Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai.

Sumur ini diperkirakan memiliki kandungan sekitar 5 Tcf gas dan 300 juta barel kondensat, dengan kemampuan produksi harian mencapai 200 juta kaki kubik standar gas (MMscfd) dan 10.000 barel kondensat.

Melalui Searah, alokasi modal akan lebih optimal untuk mempercepat pengembangan peluang baru dari sumur eksplorasi Geliga.

Eni sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dengan portofolio hulu yang terdiversifikasi.

>>> OJK Proyeksikan Pembiayaan Dana Tunai Multifinance Tumbuh Positif hingga 2026

Saat ini, volume produksi bersih Eni di Indonesia berada di kisaran 90.000 boe/d, terutama dari Lapangan Jangkrik dan Merakes di lepas pantai Kalimantan Timur.