Rencana pemerintah merelaksasi target produksi batubara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 diprediksi memicu sentimen positif bagi industri alat berat nasional.

Kenaikan volume pertambangan diperkirakan langsung mendorong lonjakan kebutuhan armada alat berat baru untuk mendukung operasional di lapangan.

>>> Legenda Prancis Just Fontaine Pegang Rekor Gol Terbanyak Piala Dunia

Corporate Secretary PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX), Gabrielle Azelia menyatakan bahwa pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah tersebut demi menggairahkan iklim usaha.

"Sebagai pelaku industri distributor alat berat, tentu kami mendukung setiap kebijakan pemerintah, terlebih jika bertujuan untuk mengairahkan iklim bisnis.

Kami berharap kebijakan tersebut dapat memacu produksi tambang, terutama pertambangan batubara, sehingga berdampak pada peningkatan penjualan alat berat," ujar Gabrielle.

Sinyal pemulihan pasar sebenarnya sudah mulai terdeteksi oleh emiten berkode saham KOBX ini sejak awal tahun berjalan.

Perusahaan mencatatkan pertumbuhan angka penjualan alat berat mencapai 28 persen pada kuartal I-2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Faktor-faktor tersebut sangat berperan terhadap permintaan alat berat, terlebih di tengah persaingan dengan merek-merek alat berat baru asal Tiongkok," kata Gabrielle.

Guna mempertahankan posisi pasar di tengah masuknya kompetitor baru, Kobexindo merespons situasi dengan memperluas portofolio produk mereka.

>>> Metrodata Electronics Siapkan Langkah Adaptif Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

Perusahaan kini telah menambah lini produk alat berat baru yang didatangkan langsung dari Tiongkok untuk memberikan variasi harga dan spesifikasi bagi konsumen.

Sinyal Relaksasi dari Pemerintah

Di sisi regulasi, sinyal pelonggaran ini sebelumnya telah disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Pemerintah berkomitmen melakukan penyesuaian kuota produksi secara fleksibel dengan memantau pergerakan harga komoditas di pasar internasional.

"Kita selalu mengikuti perkembangan dengan kita akan melakukan relaksasi (RKAB) yang terukur.

Artinya kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Langkah relaksasi ini menjadi krusial mengingat Kementerian ESDM awalnya mematok target produksi batubara yang cukup rendah dalam RKAB 2026, yakni hanya sebesar 600 juta ton.

>>> Timnas China Hadapi Thailand di Laga Persahabatan Jelang Piala Asia 2027

Angka batasan tersebut menurun drastis dibandingkan dengan target RKAB batubara musim 2025 yang sempat menyentuh angka 1,2 miliar ton, sementara realisasi produksi sepanjang tahun 2025 menyentuh 790 juta ton.