Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan pemicu utama kenaikan yield pada fase terakhir adalah pelemahan rupiah.

Pasar meminta kompensasi lebih besar atas ketidakpastian fiskal.

"Karena itu saya membedakan antara kepercayaan yang melemah dan kepercayaan yang hilang. Sampai saat ini investor asing masih tetap memiliki eksposur yang cukup besar di pasar SBN.

Artinya, Indonesia masih dianggap menarik, tetapi dengan harga risiko yang lebih mahal," jelas Yusuf.

Situasi pasar yang fluktuatif membuat penumpukan aset secara agresif dalam satu waktu menjadi berisiko bagi para pelaku pasar modal domestik.

Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, menilai tingkat yield di atas 7 persen sebenarnya mulai menawarkan peluang akumulasi bertahap yang menarik bagi investor jangka panjang.

"Namun, mengingat volatilitas pasar masih relatif tinggi dan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda, strategi yang lebih bijak adalah melakukan pembelian secara bertahap atau staggered entry dibandingkan masuk sekaligus dalam satu waktu," ungkap Domingus.

Dalam skenario dasar, yield SBN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 7,0% hingga 7,4% jika rupiah stabil.

>>> Apple Resmi Luncurkan macOS 27 Golden Gate dengan Fitur AI Canggih

Namun, berpotensi melonjak ke kisaran 7,5% hingga 7,8% jika tekanan berlanjut.