Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengoptimalkan proses pembentukan harga di pasar modal. Otoritas bursa kini memperkuat kualitas perdagangan melalui penerapan program Liquidity Provider (LP) Saham.

Program ini dirancang untuk mendongkrak likuiditas saham sekaligus memperbaiki efisiensi setiap transaksi. Para penyedia likuiditas berperan penting dalam menghadirkan kuotasi jual dan beli secara konsisten.

>>> IHSG Melonjak 7,57% ke 5.746 Usai BI Naikkan Suku Bunga

Ketersediaan kuotasi yang berkelanjutan diyakini dapat mempermudah aktivitas investor. Sistem ini juga dinilai mampu menciptakan iklim perdagangan yang lebih transparan.

Respons Positif dari Pelaku Industri

Sejauh ini, program LP Saham mendapat respons yang cukup baik dari pelaku industri keuangan. Tercatat sudah ada dua Anggota Bursa yang berpartisipasi aktif sebagai penyedia likuiditas.

PT Phintraco Sekuritas menjadi korporasi pertama yang aktif melakukan kuotasi LP Saham sejak 20 April 2026.

Langkah tersebut disusul oleh PT Mandiri Sekuritas yang mulai beroperasi pada 4 Mei 2026.

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut kehadiran Anggota Bursa baru sebagai sinyal positif bagi perkembangan program.

"Penambahan partisipasi AB ini menunjukkan meningkatnya minat pelaku industri terhadap program LP Saham," kata Jeffrey.

Menurut Jeffrey, bertambahnya jumlah Anggota Bursa akan memperkuat efektivitas program. BEI berharap partisipasi pelaku pasar terus meluas seiring meningkatnya pemahaman terhadap manfaat LP Saham.

Dampak Positif pada Likuiditas

Fase awal implementasi skema ini telah membuahkan hasil yang menjanjikan. Otoritas mencatat lonjakan aktivitas perdagangan pada deretan saham yang masuk dalam objek kuotasi.

Pada masa awal, Phintraco Sekuritas melakukan kuotasi terhadap lima saham emiten: PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).