Kuota wakil Afrika melonjak drastis dari sebelumnya hanya lima tim menjadi 10 tim pada edisi kali ini.

Sementara itu, Asia mendapatkan jatah sembilan wakil, dan Amerika Utara memperoleh enam tiket termasuk tiga status tuan rumah.

Afrika memiliki kedalaman talenta luar biasa, namun ketatnya kualifikasi sering menjegal negara kuat untuk lolos.

Bahkan untuk edisi 2026, negara sepak bola sebesar Nigeria dan Kamerun dipastikan gagal berangkat.

Kehadiran 10 wakil memperbesar probabilitas Afrika melahirkan kejutan, meski belum tentu sekuat Senegal 2002, Ghana 2010, atau Maroko 2022.

Sebagai komparasi, saat turnamen digelar di Amerika Utara pada 1994, Afrika hanya mengirimkan tiga wakil dari total 24 peserta.

Urgensi Strategi Rotasi Skuad

Manajemen kebugaran dan rotasi pemain kini bergeser menjadi instrumen vital bagi tim pelatih sepanjang turnamen.

Negara-negara unggulan diprediksi tidak akan memaksakan skuad terbaik mereka turun sejak pertandingan pertama grup.

Keberadaan lawan yang relatif lebih lemah memberi celah bagi pelatih untuk mengistirahatkan para pilar utama.

Turnamen yang berjalan lebih panjang otomatis menuntut pengelolaan fisik pemain yang jauh lebih cermat.

Ruang eksperimen bagi pelatih untuk menemukan komposisi strategi terbaik juga menjadi lebih longgar.

Argentina saat menjuarai Piala Dunia 2022 menjadi contoh sukses dengan memberdayakan 24 pemain berbeda.

>>> Telkom Indonesia Bagikan Dividen Tunai Rp21,9 Triliun dalam RUPST

Pola pendekatan rotasi berkala seperti itu diperkirakan bakal semakin marak diimplementasikan pada Piala Dunia 2026.